Ilmuwan dari Universitas Harvard mengungkap teori yang menunjukkan adanya kemungkinan Matahari memiliki kembaran. Begini penjelasan LAPAN yang ikut setuju.
- Ruth Meliana
- Sabtu, 29 Agustus 2020 - 19:16 WIB
WowKeren - Matahari dipercaya oleh sejumlah peneliti di dunia memiliki kembaran yang telah lama hilang. Salah satu teori yang mengungkapkan hal ini berasal dari penelitian ilmuwan Universitas Harvard.
Studi yang telah diterbitkan The Astrophysical Journal Letters tersebut menunjukkan kemungkinan Matahari pernah memiliki pendamping (biner) dengan massa yang sama. Teori ini dapat dijelaskan melalui pembentukan awan Oort.
Menurut ilmuwan, keberadaan kembaran Matahari yang telah lama hilang dinilai bisa menjelaskan tentang awal mula pembentukan awan Oort. Adapun awan Oort merupakan wilayah terjauh di tata surya. Ilmuwan bahkan menyebut objek terdekat di Awan Oort dianggap beberapa kali lebih jauh dari Matahari.
Hubungan antara awan Oort dengan kembaran Matahari ini dijelaskan seperti pengganti orbit planet. Jika orbit planet-planet sebagian besar terletak di piringan datar yang sama di sekitar Matahari, Awan Oort diyakini sebagai cangkang bola raksasa yang mengelilingi tata surya.
Ilmuwan menjelaskan bentuk awan Oort seperti gelembung besar berdinding tebal yang mungkin berisi miliaran atau bahkan triliunan objek. Awan Oort juga disebutkan terbuat dari potongan-potongan es dari puing-puing angkasa seukuran pegunungan dan terkadang lebih besar.
Teori adanya kembaran Matahari tersebut rupanya juga disebut masuk akal oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto mengatakan Matahari memang berpotensi memiliki kembaran seperti banyak bintang lainnya.
Selain itu, Rhorom menyebutkan jika Matahari diperkirakan lahir dari gugusan bintang, bersama dengan jutaan lainnya. Oleh sebab itu jika Matahari memang memiliki kembaran, maka kemungkinan massanya, ukurannya dan suhunya tidak jauh berbeda.
”Logikanya memang tepat bahwa kita mengharapkan Matahari punya kembaran sebagaimana banyak bintang yang lain,” ujar Rhorom seperti dilansir dari CNNIndonesia, Jumat (28/8). “Sekitar 50 persen bintang punya kembaran dekat.”
”Kalaupun Tata Surya punya 2 bintang kembar yang berdekatan, suhu Bumi tidak menjadi 2 kali lipat sekarang,” sambungnya. “Melainkan hanya sekitar 120 persen dari sekarang. Ini hanya perkiraan kasar.”
(wk/lian)