Psikolog sekaligus konselor Nuzulia Rahma Tristinarum menjelaskan jika penggunaan kata 'anjay' bisa saja berdampak pada kesehatan mental jika istilah tersebut ditujukan untuk mem-bully orang lain.
- Nidya Putri
- Selasa, 01 September 2020 - 14:53 WIB
WowKeren - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) telah melarang penggunaan kata "anjay” yang sedang populer di kalangan anak-anak. Komnas PA lantas meminta penggunaan kata tersebut untuk segera dihentikan lantaran berpotensi dipidana.
Kata "anjay" sendiri merupakan modifikasi dari sebutan nama binatang yang kerap dipakai untuk mengumpat. "Ini adalah salah satu bentuk kekerasan atau bullying yang dapat dipidana, baik digunakan dengan cara dan bentuk candaan," ujar Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (29/8) lalu.
"Namun jika unsur dan definisi kekerasan terpenuhi sesuai dengan ketentuan Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, tindakan itu adalah kekerasan verbal. Lebih baik jangan menggunakan kata 'anjay'. Ayo kita hentikan sekarang juga," sambungnya.
Menanggapi persoalan tersebut, psikolog sekaligus konselor Nuzulia Rahma Tristinarum menjelaskan, penggunaan kata "anjay" bisa saja berdampak pada kesehatan mental jika istilah tersebut ditujukan untuk mem-bully orang lain.
"Bisa saja jika kata tersebut ditujukan untuk mencela, merendahkan, menghina atau mem-bully orang lain," jelas Rahma dilansir detikcom, Selasa (1/9). Ini bisa berdampak pada kesehatan mental jika orang yang menerima kata anjay mempersepsikan negatif pada kata tersebut.
"Anjay adalah sebuah kata yang belum ada aturannya di kamus bahasa Indonesia. Sehingga sebenarnya belum ada arti yang tetap itu apa," pungkasnya. "Oleh karena itu artinya bisa dimaknakan berbagai macam rupa. Tergantung situasi, kondisi, tujuan penggunaan kata dan tergantung persepsi orang yang mendengar dan menerimanya."
Sementara itu, beberapa ahli bahasa juga turut mengomentari persoalan ini. Untuk mempermasalahkan penggunaan suatu kata, perlu kajian pragmatik, yakni kajian pengguna dan penggunaan bahasa, serta implikasi tuturan itu. Tentu antara kasus satu dengan kasus lainnya bakal berbeda-beda, tergantung penggunaan.
(wk/nidy)