Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyoroti klaster pondok pesantren yang terus bermunculan, meminta ponpes untuk langsung melapor jika temukan kasus corona.
- Ruth Meliana
- Rabu, 02 September 2020 - 09:32 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia telah melaporkan setidaknya ada 3 klaster pondok pesantren (pospen). Salah satu klaster yang paling menghebohkan berada di ponpes Banyuwangi, dimana data terbaru melaporkan ada 539 santri yang positif terinfeksi virus corona.
Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi sempat menyebut jika jumlah pesantren yang menjadi klaster masih sedikit jika dibanding dengan total yang ada di Indonesia. Namun, pernyataan Fachrul ini langsung dibantah oleh Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma’rif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU Arifin Junaidi.
”Data Rabithahtul Ma'ahidil Islamiyah, lembaga yang membawahi pesantren NU, ada lebih dari 50 pesantren yang terpapar,” ujar Arifin seperti dilansir dari CNNIndonesia, beberapa waktu lalu. “Tapi pemerintah menyatakan jumlah yang jauh lebih sedikit.”
Menanggapi hal tersebut. Fachrul lantas mengimbau setiap pondok pesantren di Tanah Air untuk segera melapor ke Kementerian Agama (Kemenag) jika menemukan kasus COVID-19. Imbauan Fachrul ini disampaikan demi mencegah munculnya klaster penyebaran virus corona yang memang berpotensi tinggi terjadi di lingkungan ponpes.
Fachrul meminta setiap pondok pesantren untuk tidak menyembunyikan kasus virus corona di lingkungannya jika menemukannya. Ia juga berjanji kementeriannya akan langsung memberikan bantuan untuk menangani ponpes yang memiliki kasus COVID-19.
”Belakangan kami melihat ada beberapa pesantren yang terkena,” kata Fachrul dalam keterangannya seperti dilansir dari Kumparan, Rabu (2/9). “Kami anjurkan kepada mereka agar jangan diam-diam saja.”
”Kalau ada yang terkena atau menjadi klaster segera lapor ke Kementerian Agama,” sambungnya. “Segera akan kami datangi dan bantu.”
Nantinya, Kemenag akan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan begitu ada ponpes yang melaporkan kasus corona. Keduanya akan langsung bersinergi untuk menangani santri-santri maupun pegawai di lingkungan ponpes yang dinyatakan positif COVID-19.
”Kami akan bantu apa saja yang kami bisa,” jelas Fachrul. “Misalnya, dari mulai obat-obatan, disinfeksi lingkungan pondok pesantren, atau membantu dana, hingga berkoordinasi untuk menurunkan tim kesehatan ke sana.”
”Pertama, lingkungan madrasah/pesantren aman COVID,” sambungnya. “Kedua, guru atau ustaznya aman COVID. Ketiga, santrinya aman COVID, dan keempat selalu menerapkan protokol kesehatan.”
(wk/lian)