Trump Enggan Bahas Kasus Peracunan Tokoh Oposisi Rusia, Klaim Keburukan Tiongkok Lebih Layak Diurusi
Getty Images
Dunia

Presiden AS tersebut menolak untuk membahas seputar kemungkinan kejahatan Rusia dalam kasus peracunan Navalny dan malah menunjuk untuk lebih memberi perhatian kepada Tiongkok.

WowKeren - Presiden Amerika Serikat Donald Trump enggan menanggapi kasus Alexei Navalny, tokoh oposisi Rusia yang diduga diracun. Presiden 74 tahun tersebut justru meminta publik untuk lebih menyoroti Tiongkok ketimbang kasus yang diklaim dilakukan oleh Rusia itu.

Trump mengatakan dia mendengar Jerman telah menemukan bahwa Novichok adalah racun yang digunakan pada Navalny. Namun, dia menolak untuk membahas seputar kemungkinan kejahatan Rusia dan malah menunjuk untuk lebih memberi perhatian kepada Tiongkok.

"Sangat menarik bahwa setiap orang selalu menyebut Rusia dan saya tidak keberatan Anda menyebut Rusia. Tapi saya pikir mungkin Tiongkok pada saat ini adalah negara yang harus Anda bicarakan lebih banyak daripada Rusia, karena hal-hal yang dilakukan Tiongkok jauh lebih buruk," kata Trump.

Sebelumnya, NATO dan Jerman telah mengatakan ada bukti bahwa Navalny diracun menggunakan Novichok yang pernah digunakan oleh badan intelijen rahasia era Uni Soviet, yaitu racun saraf yang juga digunakan dalam serangan terhadap mata-mata Inggris, Sergei Skripal. Inggris sebelumnya menuduh intelijen militer Rusia melakukan serangan terhadap Skripal dan putrinya di Salisbury.

Otoritas Jerman mengatakan tes menunjukkan bahwa dia telah diracuni dengan zat kimia saraf dari kelompok Novichok. Jerman bahkan mengancam akan memberikan sanksi pada Rusia atas kasus ini. Meski begitu, Kremlin tetap meragukan klaim yang dilemparkan kepada mereka.

"Jika dalam beberapa hari mendatang Rusia tidak membantu mengklarifikasi apa yang terjadi, kami akan dipaksa untuk membahas respons dengan sekutu kami," kata Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, kepada surat kabar Jerman Bild.


"Hanya sejumlah kecil orang yang memiliki akses ke Novichok dan racun ini digunakan oleh dinas rahasia Rusia dalam serangan terhadap mantan agen Sergei Skripal," katanya, merujuk pada serangan 2018 di kota Salisbury, Inggris.

Kendati demikian, pemerintah Rusia membantah keterlibatan para pejabat tinggi atau bahkan Presiden Vladimir Putin dalam kasus dugaan peracunan Alexei Navalny. "Kami tidak bisa menanggapi tuduhan ini (keterlibatan dalam peracunan Navalny) dengan serius. Begini, tuduhan yang sama sekali tidak mungkin benar dengan cara apa pun adalah kebisingan kosong. Kami tidak bermaksud untuk menganggapnya serius," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.

Menurut Peskov, tim dokter yang menangani Navalny di Berlin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Peskov mengatakan penting untuk menganalisis dengan tenang apa yang dikatakan dan ditulis. "Kami belum mempelajari hal baru di sini. Sayangnya, substansinya tidak dapat diidentifikasi. Analisis yang dilakukan oleh dokter kami dan dokter Jerman sama, tapi kesimpulannya berbeda," ujarnya.

Hingga kini, Navalny dilaporkan masih dalam keadaan koma. Tokoh oposisi Rusia tersebut menjalani perawatan di Berlin’s Charite Hospital. Tim dokter telah melakukan pemeriksaan secara mendetail sejak Navalny tiba di sana pada 22 Agustus pekan lalu.

Navalny diduga diracun di pesawat saat melakukan perjalanan ke Siberia pekan lalu. Dia pingsan setelah meminum teh yang disajikan kepadanya. Sebelum dibawa ke Berlin, Navalny sempat menjalani perawatan selama dua hari di kota Omsk di Siberia. Dia koma dan harus menggunakan ventilator.

Navalny merupakan tokoh oposisi terkemuka di Rusia. Dia merupakan kritikus utama Presiden Vladimir Putin. Selama satu dekade terakhir, Navalny tekun merilis video di Youtube yang menjabarkan praktik korupsi di semua tingkatan pemerintahan.

Mau tak mau hal tersebut membuatnya mendapatkan banyak musuh di Rusia. Navalny telah berulang kali ditahan karena mengatur pertemuan publik dan demonstrasi anti-pemerintah. Dia dilarang mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada 2018.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait