Telan Dana Rp 400 Juta, Rumah Mungil di Gang Sempit Cipulir Dapat Penghargaan Dunia
Instagram/delution_architect
SerbaSerbi

Seperti namanya, The Twins didesain memiliki dua massa bangunan yang terpisah untuk menjawab kebutuhan penghuni rumah. Proyek ini menghabiskan dana sekitar Rp 400 juta.

WowKeren - Ketersediaan lahan semakin tahun semakin menyempit. Hal ini membuat para arsitek berlomba-lomba untuk bisa menyusun desain rumah minimalis namun tetap nyaman di tengah sempitnya lahan.

Apalagi di lingkungan perkotaan dimana pada umumnya harga tanah sangatlah mahal. Rumah yang bagus tak harus dibangun di atas lahan yang luas. Seperti sebuah rumah mungil yang ada di di kawasan Cipulir, Jakarta Selatan.

Kendati berada di tengah gang sempit dengan permukiman padat penduduk, rumah ini didesain sangat kreatif hingga berhasil meraih penghargaan internasional. Rumah ini berhasil menyabet penghargaan Architizer Awards 2020 untuk kategori Small Architecture+ Small Living by People Choice.

Diketahui, Architizer Awards merupakan sebuah ajang penghargaan arsitektur berskala dunia yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS). Tahun ini, ada 5.000 karya arsitektur dari 100 negara di dunia yang masuk dalam ajang tersebut.


Rumah mungil itu bernama The Twins. Proyek ini dibangun pada 2019 untuk menjawab permasalahan luas tanah kecil. Namun siapa sangka jika rumah ini berhasil bersanding dengan empat karya arsitektur dunia lainnya untuk dipilih secara voting terbuka.

"Kami amat berterima kasih atas dukungan dan voting yang diberikan kepada kami kemarin," kata Muhammad Egha selaku CEO Delution dalam keterangan tertulis seperti dilansir dari Liputan 6, Kamis (17/9). "Semoga penghargaan ini dapat ikut membawa nama baik arsitektur Indonesia di mata dunia."

Seperti namanya, The Twins didesain memiliki dua massa bangunan yang terpisah untuk menjawab kebutuhan penghuni rumah. Proyek ini menghabiskan dana sekitar Rp 400 juta. Egha menyebut The Twins merupakan contoh penerapan konsep rumah sehat, efisien dan realistis di salah satu kota padat penduduk. Rumah ini hanya dibangun di atas lahan dengan luas hanya sekitar 70 meter persegi.

"Kami berharap rumah ini dapat menjadi sebuah percontohan," tutur Egha. "Yang akan menjadi stimulus bagi kemajuan wajah serta kualitas hidup perkampungan kota yang semula terabaikan."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts