Marak Tanaman Janda Bolong Dihargai Ratusan Juta, Ekonom Ikut Buka Suara
SerbaSerbi

Ekonom Indef Bhima Yudistira menyebut hal ini sebagai fenomena gelembung ekonomi di mana harga suatu barang jauh dari nilai intrinsiknya. Fenomena serupa pernah terjadi pada 1637 silam.

WowKeren - Baru-baru ini nama "janda bolong" kian naik daun. Janda bolong merupakan salah satu jenis tanaman hias yang saat ini tengah banyak digandrungi.

Yang membuatnya ramai dibahas adalah, tanaman ini dibanderol sangat mahal bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Fenomena ini rupanya sukses menarik perhatian Ekonom Indef Bhima Yudistira.

Menurutnya ini adalah fenomena gelembung ekonomi. Fenomena serupa pernah terjadi pada 1637 silam. Ia menyebut jika hal itu terjadi pada bunga tulip.

"Fenomena ini disebut sebagai gelembung ekonomi (bubble economy) di mana harga suatu barang jauh dari nilai intrinsiknya," kata Bhima di Jakarta, Selasa (29/9). "Dalam sejarah bubble economy pertama kali dicatat pada tahun 1637 saat harga bunga Tulip dihargai 3.000 sampai 4.200 gulden di Eropa."


Di Indonesia sendiri, gelembung ekonomi sempat terjadi pada saat booming ikan louhan hingga batu akik serta daun anthrium. Kala itu, harga anthrium bahkan dibanderol setara mobil. Usut punya usut ternyata ada permainan antar pedagang tanaman hias atau kartel yang menggoreng harga.

Bhima menduga jika tidak menutup kemungkinan hal sama juga terjadi pada tanaman hias janda bolong. Sehingga menurutnya perlu diselidiki apakah ada pihak yang bermain di belakang semua ini.

"Sekarang bisa terjadi lagi ketika tanaman hias seperti monstera atau janda bolong harganya selangit," lanjut Bhima. "Perlu diselidiki, siapa yang bermain dibelakang fenomena ini? Yang jelas spekulan selalu menciptakan produk untuk dipermainkan."

Sementara itu, tanaman janda bolong memiliki ciri khas yang unik. Tak seperti tanaman lainnya, daun tanaman ini tampak banyak berlubang atau bolong. Namun selain itu, warna yang dimiliki tanaman ini juga menjadi daya tarik tersendiri.

Senada dengan ekonom Bhima, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung, Syariful Mubarok, menilai harga janda bolong yang mencapai selangit bukan disebabkan budidaya yang sulit namun karena adanya permainan harga. "Setelah banyak dibudidayakan dan jumlahnya meningkat di masyarakat mengakibatkan harga turun," tutur Syariful seperti dikutip dari laman resmi Unpad.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts