ASI Hingga Obat Semprot Diklaim Bisa Lawan COVID-19, Ini Kata Ahli
Health
COVID-19 di Indonesia

Sejumlah ilmuwan mengklaim bahwa air susu ibu (ASI) hingga obat semprotan hidung dapat mencegah dan mengobati penyakit yang disebabkan virus corona. Apa benar begitu?

WowKeren - Sejumlah ilmuwan melakukan penelitian untuk menemukan obat virus corona (COVID-19). Sebelum ditemukannya vaksin utama, para ilmuwan juga mencari sejumlah opsi untuk dijadikan obat.

Menurut temuan ilmuwan Tiongkok yang beredar dalam situs kesehatan biorxiv.org air susu ibu (ASI) disebut-sebut memiliki kelebihan untuk mencegah dan mengobati infeksi virus mematikan tersebut. Mengutip South China Morning Post, riset yang dipimpin oleh Profesor Tong Yigang dari Beijing University of Chemical Technology mengklaim telah mengumpulkan ASI sejak tahun 2017, jauh sebelum terjadinya pandemi.

ASI tersebut sudah diuji pada jenis sel bervariasi dari sel ginjal hewan hingga sel paru-paru dan usus anak muda. Hasilnya sebagian besar strain virus yang hidup terbunuh oleh ASI.

Peneliti Tiongkok itu mengklaim hampir tidak ada pengikatan atau masuknya virus ke sel-sel ini. Pengobatan juga menghentikan replikasi virus dalam sel yang sudah terinfeksi. Riset menyimpulkan bahwa infeksi dapat dihalau oleh ASI, yang diketahui memiliki efek menekan pada bakteri dan virus seperti HIV.

Namun, epidemilog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman menyatakan tidak ada bukti terkait hal tersebut. Menurutnya, ASI lebih berperan untuk meningkatkan imunitas anak. "Yang jelas saat ini ASI tidak bisa sembuhkan Covid-19," ujar Dicky dilansir CNNIndonesia, Rabu (30/9).


Tak sampai di situ, Dicky juga turut merespon terkait temuan ilmuwan yang menyebutkan jika obat semprotan hidung dapat mengurangi tingkat virus corona SARS-CoV-2. Ia mengatakan jika temuan tersebut tak terlalu mengejutkan lantaran obat serupa pernah dikembangkan saat pandemi SARS dan MERS. "Obat yang disemprotkan atau nasal spray yang saat ini diuji memang untuk di kasus MERS dan SARS itu ada uji, tapi uji lab," ujarnya.

Obat semprot yang dikembangkan pada saat SARS dan MERS menggunakan Povidon-iodin, sejenis Betadine. Kala itu, dia mengatakan hasil uji lab menunjukkan ada efektifitas dalam menurunkan jumlah virus di saluran napas atas, yakni hidung dan tenggorokan ketika disemprotkan.

"Namun itu risetnya di lab pada saat MERS dan SARS," terangnya. "Sehingga untuk COVID-19 ini secara teoritis memang ada risetnya menunjukkan memang bisa mengurangi jumlah partikel virus."

Seperti yang telah diketahui, perusahaan bioteknologi Australia Ena Respiratory mengaku memiliki obat semprot untuk mengurangi tingkat virus corona SARS-CoV-2. Perusahaan itu berkata INNA-051 dapat menurunkan replikasi virus hingga 96 persen. INNA-051 merupakan molekul kecil sintetis yang diberikan melalui semprotan hidung.

Meski menjadi kabar baik, dia mengingatkan obat semprot itu masih harus melewati serangakaian pengujian. Jika berhasil, dia menilai obat semprot itu akan lebih tepat digunakan oleh orang positif COVID-19 yang sedang menjalani isolasi atau karantina.

"Hanya perlu dipahami itu bukan obat," tegasnya. "Itu hanya untuk meminimalisir dan sifatnya pencegahan."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts