Bikin Bangga! Telur Asin Khas Brebes Jadi Warisan Budaya Tak Benda RI
SerbaSerbi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan telur asin khas Brebes sebagai warisan budaya tak benda dalam sidang yang digelar pada 6-9 Oktober 2020 lalu.

WowKeren - Masyarakat Indonesia terutama warga Brebes patut bangga karena telur asin sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Telur asin sendiri merupakan makanan tradisional kuno yang punya usia ratusan tahun.

Dalam sidang yang digelar pada 6-9 Oktober 2020, telur asin akhirnya resmi dinobatkan sebagai bagian dari warisan budaya tak benda. Kabar baik ini tentu menjadi kebangaan bagi masyarakat Indonesia yang sudah sangat familiar dengan telur asin.

Dikutip dari CNNIndonesia, Sabtu (17/10), Direktur Perlindungan Kebudayaan Kemendikbud, Fitra Arda Sambas, menjelaskan syarat untuk mendapatkan status warisan budaya tak benda. "Seperti kita ketahui bahwa Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang akan ditetapkan, paling tidak berupa tradisi dan ekspresi lisan, seni pertunjukan, adat-istiadat masyarakat, ritual, dan perayaan-perayaan, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta, dan atau keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional," ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes Wijanarto menjelaskan jika telur asin bukan sekadar produk kuliner. Namun di dalamnya terangkum pengetahuan dan keterampilan tradisional, filosofi kegotongroyongan, serta identitas sosial masyarakat Brebes.

Wijanarto menjelaskan sejarah telur asin berawal tradisi warga keturunan Tionghoa dalam mengawetkan bahan makanan, termasuk telur. Telur asin ini kemudian bisa menjadi ikon makanan khas Brebes setelah melalui sejarah yang panjang.

"Jadi awalnya dari tradisi mengawetkan makanan dengan cara diasinkan," ujar Wijanarto, Jumat (16/10). "Peranakan Tionghoa selalu mengawetkan bahan makanan bila akan bepergian jauh sebagai bekal. Bukan hanya telur, jenis makanan lain juga diasinkan agar awet."


Telur asin yang semula berawal dari tradisi, setelah melalui sejarah yang panjang, kemudian menjadi ikon makanan khas daerah. Ini dimulai dari kuliner khas kalangan etnis Tionghoa yang kemudian dikomersialkan sejak 1950-an.

"Sebetulnya, kalau kita lacak, telur asin ini berasal dari tradisi mengawetkan makanan dan ritus sesaji pada Sejit atau dewa bumi di klenteng-klenteng," ungkap Wijanarto. Sebagaiman diketahui, kebudayaan kuliner khas etnis Tionghoa telah memberikan pengaruh pada budaya kuliner di Nusantara. Salah satunya adalah teknologi kekuatan pangan.

Teknik pengawetan makanan dengan pengasinan ini juga memberikan kontribusi paling penting dalam teknologi kuliner Nusantara, termasuk membuat telur asin. Bermula dari sesaji dewa bumi, kemudian masyarakat Tionghoa ini menjadikan telur asin ini sebagai bagian dari kekuatan untuk bertahan pada masa transisi pasca-Kemerdekaan.

Masyarakat Brebes sendiri mulai mengenal telur asin pada 1960-an. Bukan hanya keturunan Tionghoa, masyarakat pribumi juga sudah banyak yang mengenal cara pembuatan telur asin.

"Awalnya dari warga pribumi yang dipekerjakan untuk membuat telur asin oleh masyarakat Tionghoa," paparnya. "Setelah menyerap ilmunya, mereka membuat sendiri dan terus berkembang sampai sekarang."

Dengan makin banyaknya orang yang membuat telur asin, banyak bermunculan pengusaha makanan ini. Bukan hanya Tionghoa, masyarakat pribumi juga banyak yang menjadi pengusaha telur asin. Sejak saat itulah Brebes mulai dikenal sebagai kota penghasil telur asin.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts