Bunuh 4 Warga di Sigi, Kelompok MIT Disebut Terdesak Cari Makanan
Nasional

Karopenmas Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono menjelaskan bahwa kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora kini hanya tinggal 11 orang dan sudah terdesak.

WowKeren - Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora disebut menjadi dalang di balik aksi pembunuhan sadis di Desa Lembantongoa, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Jumat (27/11) lalu. Empat warga tewas terbunuh dan tujuh rumah dibakar dalam aksi kejam tersebut.

Mabes Polri pun menjelaskan bahwa kelompok MIT kini hanya tinggal 11 orang dan sudah terdesak. "Data dari salah satu tersangka yang sedang dilakukan penyidikan Densus 88 Antiteror, bahwasanya penuturannya memang 11 mereka bergerak," terang Karopenmas Polri Brigadir Jenderal Awi Setiyono pada Rabu (2/12).

Kelompok MIT juga disebut telah kehabisan stok makanan, sehingga mereka meneror masyarakat di Sigi. "Istilah kami itu mereka sudah terdesak, karena kehabisan bekal, sehingga yang terjadi dia meneror masyarakat," jelas Awi.

Meski demikian, Awi menuturkan bahwa kekuatan 11 personel kelompok MIT Poso yang hingga saat ini masih buron tersebut tak bisa diremehkan. Mereka disebut telah menguasai wilayah persembunyian hingga kerap lolos dari kejaran aparat.


"Beberapa penuturan yang tertangkap menyampaikan, kadang-kadang satgas lewat jarak 10 meter, 20 meter mereka tiarap sudah tidak ketahuan," ungkap Awi. "Semoga permasalahan geografis, permasalahan alam ini bisa segera kami atasi."

Di sisi lain, kasus pembunuhan sadis di Sigi membuat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ikut turun tangan. Senada dengan Awi, BNPT menyebut alasan di balik aksi pembunuhan satu keluarga oleh kelompok Ali Kalora itu berkaitan dengan masalah logistik.

Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar menjelaskan bahwa kelompok teroris ini biasanya bertahan hidup di lereng-lereng Pegunungan Biru, Kabupaten Poso. Namun karena logistik yang kian menipis, mereka pun mulai mengincar harta benda milik warga di pemukiman sekitar lereng pegunungan tersebut.

"Jadi hari ini cara bertahan mereka untuk hidup di lereng-lereng Pegunungan Biru antara lain dengan mencari logistik, dengan merampok mengambil harta benda masyarakat," tutur Boy Rafli, dilansir dari Kompas. "Jadi inilah yang terjadi sekaligus kita memang menunjukan mereka masih eksis dan inilah yang menjadi tantangan kita untuk melumpuhkan mereka dalam beberapa waktu ke depan."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts