9 Bulan Pandemi di RI, Epidemiolog 'Geram' Ingatkan Kenaikan Kasus Bisa Berlanjut ke 2021
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pandemi di Indonesia sudah berjalan lebih dari 9 bulan. Epidemiolog UI Pandu Riono mengaku tidak terkejut dengan penambahan kasus corona di Tanah Air saban harinya

WowKeren - Epidemiolog UI Pandu Riono mengungkapkan pandangannya mengenai kenaikan kasus COVID-19 yang masih terus terjadi di Indonesia setiap harinya. Menurutnya, peningkatan jumlah kasus COVID-19 bisa berlanjut hingga tahun depan.

"Saya nggak kaget, karena kan pola kenaikannya sudah diprediksi," kata Pandu dilansir CNBC Indonesia, Jumat (4/12). "Kita sudah ingatkan. Ini bisa naik terus sampai tahun depan. Kalau bertambah buruk, ya kan sesuai."

Menurutnya, penanganan pandemi yang dilakukan selama ini masih belum membuahkan hasil. Terutama untuk upaya 3T (testing, tracing, dan treatment). Oleh sebab itu ia menilai pemerintah harus segera melakukan sesuatu.

Kemampuan testing masing-masing wilayah di Indonesia memang masih belum merata. Bahkan secara nasional. Indonesia belum mampu memenuhi target WHO.

"Kan tracking, tergantung testing. Testing lemah, telat, terbatas. Membuat tracking tak berguna," tegas Pandu. "Padahal surveillance testing, tracing, isolasi harus benar. Isolasi harus dibiayai."


Pandemi di Indonesia sudah berjalan lebih dari 9 bulan, Pandu pun menyayangkan hingga kini masih ada peningkatan kasus. Menurutnya, koordinasi antara pemerintah pusat dengan daerah masih kurang optimal. Terlebih lagi masalah data.

"Sudah 9 bulan lho," tegasnya lagi. "Dikasih tau melakukan ini, ini, tak ada koordinasi antar pemerintah pusat dan pemerintah daerah, datanya kabur, main salah-salahan."

Oleh sebab itu, ia menilai pemerintah harus lebih tegas untuk membuat kebijakan guna memutus rantai penularan. Salah satu alasan masih banyak yang belum patuh dan cenderung abai dengan peraturan adalah karena masalah komunikasi.

Jika ingin memberikan pesan harus dengan bahasa masyarakat seluruh Indonesia. "Bukan bahasa oleh orang Jakarta. Bahasa lokal," ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat sejak awal pandemi agak terlambat. Sehingga perlu mengerahkan tokoh masyarakat untuk turut mengubah perilaku warga agar lebih patuh prokes. "Semua sosial media, tokoh masyarakat harus diajak. Yang punya pengaruh banyak jangan dimusuhi. Karena mereka lebih didengarkan," ungkapnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts