Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkap strategi jitu yang harus ditempuh demi bisa mengendalikan wabah COVID-19. Seperti apakah? Ini penjelasan lengkapnya.
- Elvariza Opita
- Selasa, 02 Februari 2021 - 11:28 WIB
WowKeren - Wabah COVID-19 masih menjadi "musuh utama" yang harus dituntaskan banyak negara secara bersama-sama. Meski belakangan tampaknya situasi makin tak terkendali dengan total kasus kumulatif mencapai 100 juta lebih, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus meyakini masih ada asa untuk bisa melandaikan wabah.
Baru-baru ini Tedros pun mengungkap sebuah tips jitu untuk bisa mengendalikan wabah COVID-19. Yakni dengan memprioritaskan vaksinasi COVID-19 kepada tenaga kesehatan, lansia, dan golongan berisiko tinggi maksimal dalam 100 hari pertama tahun 2021.
Hal ini Tedros sampaikan dalam sebuah opini bertajuk "WHO's Covid Warning Were Not Heeded. Now The Word Has a New Chance to Beat the Virus" yang dipublikasikan The Guardian, Sabtu (30/1). "Jika kita berhasil, kita akan berada di jalur yang tepat untuk mengendalikan pandemi," terang Tedros, dilansir pada Selasa (2/2).
"Dan pada bulan Januari mendatang, kita akan melihat semua negara dan komunitas di dunia berada di jalur yang lebih sehat," imbuh Tedros. "Lebih aman, dan lebih berkelanjutan untuk masa depan."
Pada kesempatan itu, Tedros membeberkan berbagai upaya yang sudah dilakukan WHO demi mencegah pandemi COVID-19 meluas. Termasuk dengan mengumumkan status darurat kesehatan pada 30 Januari 2020 dan sejak itu mendesak semua negara untuk memanfaatkan "jendela peluang" untuk mencegah penyebaran lebih luas wabah infeksi pernapasan ini.
Berbagai langkah ditempuh, termasuk membantu publikasi tes PCR pertama usai peneliti Tiongkok berhasil mengidentifikasi urutan genetik virus. Kini WHO pun akan fokus dalam distribusi dan pengadaan vaksin yang diharapkan bisa menjadi kunci untuk menuntaskan pandemi yang terjadi.
Namun Tedros tak menampik bahwa tak semua negara memiliki akses untuk mendapatkan vaksin ini. "Negara-negara kaya telah membuat kesepakatan bilateral dengan produsen untuk memvaksinasi seluruh populasi, terkadang beberapa kali lipat," ungkap Tedros.
"Hal ini membuat negara-negara di bawah tekanan domestik yang besar untuk mulai mengimunisasi populasinya sedikit pilihan selain membuat pengaturan sendiri," imbuhnya. "Hal ini mengakibatkan produsen memprioritaskan kesepakatan yang lebih menguntungkan dengan negara kaya, daripada mendukung peluncuran vaksin yang adil ke semua negara."
Karena itu pula WHO kemudian mendukung inisiasi program Access to COVID-19 Tools (ACT) Accelerator. Program ini adalah sebuah gerakan global yang diluncurkan April 2020 silam demi memacu pengembangan dan distribusi vaksin secara merata.
(wk/elva)