Moeldoko Terpilih Jadi Ketum, KLB Demokrat di Sumut Dinilai Balas Dendam Politik Untuk Kubu SBY
Instagram/pdemokrat
Nasional
Isu Kudeta Partai Demokrat

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, lantas menilai ada motivasi dendam politik buntut Kongres Demokrat 2010 lalu di balik pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) tersebut.

WowKeren - Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat periode 2021-2025 versi Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar di Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Jumat (5/3). Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, lantas menilai ada motivasi dendam politik buntut Kongres Demokrat 2010 lalu di balik pelaksanaan KLB tersebut.

"Saya lihat gini, memang ada dendam politik, tapi lebih kepada dendam politik orang-orang yang dulu berseteru dengan katakanlah Cikeas," terang Qodari kepada detikcom. "Jadi menurut saya ini residu dari pertarungan politik 2010, dan akumulasi selanjutnya."

Sebagai informasi, Susilo Bambang Yudhoyono menjagokan Andi Malarangeng di Kongres Demokrat 2010. Namun, Andi kalah telah dari Anas Urbaningrum yang kala itu terpilih sebagai Ketua Umum Demokrat. Menurut Qodari, Anas saat itu juga menguasai DPC dan DPD Demokrat.

"Kalau kita lihat 2010 itu kan SBY kan kaget ya karena calonnya jagoannya kalah, Andi Malarengeng kalah telak, cuma dapat 82 suara dari 527 suara, cuma 15 persen aja, lalu Anas Urbaningrum terpilih, memang ada akomodasi berupa Ibas jadi Sekjen kan begitu," papar Qodari. "Lalu setelah itu di daerah terjadi Musda di DPD dan DPC, dan terjadi dinamika baru bahwa yang menang itu orangnya Anas semua, sehingga akhirnya Anas menguasai Partai Demokrat."


Namun, Anas tersandung kasus serta ditetapkan sebagai tersangka korupsi pada tahun 2013, KLB Demokrat lantas digelar di tahun yang sama. Menurut Qodari, saat itu perjanjian antara Anas dan SBY terbentuk.

"Anas menjadi tersangka, begitu tersangka, berhenti jadi ketum muncul lah namanya KLB 2013. Nah KLB 2013 Marzuki Alie mau maju jadi ketua umum, Anas juga mundur dan katakanlah membuka pintu bagi (SBY) KLB gitu ya," tutur Qodari. "Kan di daerah orang dia semua, orang Anas semua itu dia, nah membuka pintu bagi kongres itu dengan catatan orang-orang Anas diakomodasi oleh SBY itu."

Namun, Qodari menyebut SBY tak pernah mengakomodasi orang-orang Anas. Marzuki Alie juga disebutnya menjadi korban perjanjian antara Anas dengan SBY. Qodari menilai dendam politik terbentuk dari sini hingga berujung pada KLB Demokrat di Sumut dengan orang-orang Anas dan Marzuki Alie sebagai penggagasnya.

"Nah menurut yang saya dengar orang-orang Anas itu tidak diakomodasi, jadi istilahnya kubu Anas tersingkir, Marzuki Alie juga makin tersingkir juga. Nah itu yang menjelaskan kalau kita lihat pemain utama pada hari ini itu kan misalnya Jhoni Allen Marbun, siapa Jhoni Allen? Itu motor dan operatornya Anas Urbaningrum tahun 2010," ungkapnya. "Katanya di situ ada Nazar (Nazaruddin), itu kan timnya Anas juga, dan Nazar bendaharanya Demokrat waktu itu, lalu siapa? Marzuki Alie, walau Marzuki mengatakan 'sebetulnya saya tidak terlibat, tapi karena saya dipecat ya saya tidak ada pilihan lagi, ya sudah saya melawan', jadi ini sebetulnya bergabungnya dua musuh SBY."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts