India Ciptakan Covishield-Covaxin, Apa Bedanya Dengan Vaksin Corona Lain?
Pexels/Maksim Goncharenok
Health
Vaksin COVID-19

India telah memproduksi vaksin COVID-19 buatannya sendiri yang diberi nama Covishield dan Covaxin dimana keduanya telah dikirim ke sejumlah negara. Apa keunggulan keduanya dibandingkan vaksin lainnya?

WowKeren - India telah memproduksi vaksin COVID-19 buatannya sendiri yang diberi nama Covaxin. Vaksin ini sendiri telah didukung oleh Pemerintah India lantaran menunjukkan tingkat kemanjuran hinga 81 persen.

Regulator di India memberi vaksin itu izin penggunaan darurat pada Januari, saat uji coba fase tiga masih berlangsung, yang menimbulkan keraguan dan pertanyaan dari para ahli. Namun, produsen vaksin Covaxin, Bharat Biotech, mengatakan temuan terbaru ini adalah "tonggak penting dalam penemuan vaksin, untuk sains dan perjuangan kita melawan virus corona".

"Dengan hasil dari uji klinis fase tiga kami hari ini, kami telah melaporkan data tentang vaksin COVID-19 kami dari uji coba fase satu, dua, dan tiga yang melibatkan sekitar 27.000 peserta," kata perusahaan itu.

Adapun kontroversi terkait vaksin Covaxin ini bermula ketika regulator pada Januari mengatakan Covaxin telah mendapat persetujuan untuk "penggunaan terbatas dalam situasi darurat untuk kepentingan publik sebagai tindakan pencegahan, dalam mode uji klinis, terutama dalam konteks infeksi oleh strain mutan".

Para ahli bertanya-tanya bagaimana vaksin itu bisa diizinkan untuk digunakan dalam keadaan darurat oleh jutaan orang yang rentan ketika uji cobanya masih berlangsung. The All India Drug Action Network mengatakan bahwa ada "banyak kekhawatiran yang timbul dari ketiadaan data efikasi (khasiat)" dari vaksin yang belum dipelajari secara lengkap.

Namun, baik produsen maupun regulator obat membela Covaxin, dengan mengatakan vaksin tersebut "aman dan memberikan respon kekebalan yang kuat". Bharat Biotech mengatakan bahwa hukum uji klinis di India mengizinkan "percepatan" otorisasi untuk penggunaan obat-obatan setelah tahap kedua uji coba demi "kebutuhan medis terkait penyakit serius dan mengancam nyawa di dalam negeri".


Perlu diketahui, Bharat Biotech memiliki portofolio 16 vaksin dan mengekspornya ke 123 negara. Covaxin menggunakan platform inactivated vaccine, yang artinya terbuat dari virus korona yang sudah mati, sehingga aman untuk disuntikkan ke dalam tubuh. Perusahaan pembuat vaksin berusia 24 tahun itu, menggunakan sampel virus corona yang diisolasi oleh Institut Virologi Nasional India.

Kemudian, ada juga vaksin Oxford-AstraZeneca yang diproduksi oleh Serum Institute of India dengan nama Covishield. Vaksin ini dibuat dari versi virus flu biasa yang dilemahkan (dikenal sebagai adenovirus) dari simpanse.

Virus itu telah dimodifikasi agar lebih mirip virus corona - meski tidak bisa menyebabkan penyakit. Ketika vaksin disuntikkan ke pasien, ia mendorong sistem kekebalan untuk mulai membuat antibodi dan mempersiapkannya untuk menyerang infeksi virus corona.

Terkait efektivitas vaksin ini, menurut uji klinis internasional dari vaksin buatan Oxford-AstraZeneca menunjukkan hasil yang sangat baik yaitu mencapai 90%. Tetapi tidak ada cukup data yang jelas untuk mendukung gagasan apakah presentase tersebut diberikan dalam dosis setengah atau dosis penuh.

Namun, dalam data yang belum dipublikasikan menunjukkan bahwa jarak yang lebih panjang antara dosis pertama dan kedua meningkatkan efektivitas vaksin secara keseluruhan - dalam subkelompok yang diberi vaksin dengan cara ini, ditemukan bahwa vaksin menjadi 70% efektif setelah dosis pertama. Namun, Serum Institute (SII), pembuat vaksin Covishield di India, mengatakan vaksin ini "sangat efektif" dan didukung oleh data uji coba fase III dari Brasil dan Inggris.

Meski belum terbukti efektivitasnya, sudah ada berbagai negara yang mengantri untuk mendapatkan vaksin buatan India ini. Bahkan sejauh ini India telah mengirimkan 57 juta dosis vaksin ke 64 negara di Amerika Latin, Karibia, Asia dan Afrika.

Baik Covishield dan Covaxin sejauh ini telah diekspor - beberapa dalam bentuk "hadiah", lainnya melalui perjanjian komersial yang ditandatangani antara pembuat vaksin dan negara penerima, dan sisanya melalui skema Covax, yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts