Pamerkan Vaksin Nusantara, Eks Menkes Terawan: Ini Menjadi Sebuah Solusi
Unsplash/Steven Cornfield
Nasional
Kontroversi Vaksin Nusantara

Saat menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR pada Rabu (10/3), mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengklaim bahwa vaksin Nusantara sangat aman dan bisa menjadi solusi. Berikut pernyataan lengkapnya.

WowKeren - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto "memamerkan" vaksin Nusantara yang diprakarsainya saat menghadiri Rapat Kerja bersama Komisi IX, Rabu (10/3). Dalam rapat yang disiarkan melalui kanal YouTube DPR RI tersebut, Terawan mengatakan bahwa vaksin Nusantara menjadi sebuah solusi untuk mengendalikan pandemi virus Corona di Tanah Air.

Terawan menjalaskan bahwa vaksin Nusantara berbasis sel dendritik autolog yang dipaparkan dengan antigen dari Sars-Cov-2. Dengan komponen tersebut, Terawan mengklaim bahwa vaksin Nusantara mempunyai fungsi individual terhadap penerima.

"Saya waktu selaku Menkes berperan serta di dalam kegiatan anak bangsa yang ingin mengembangkan vaksin berbasis dendritik sel. Yang tentunya sifatnya autologus, individual, dan tentunya sangat-sangat aman," kata Terawan pada pada Rabu (10/3).

Terawan berharap vaksin Nusantara juga dapat diberikan kepada masyarakat yang masuk ke dalam pengecualian kriteria vaksin. Dengan demikian, vaksin ini diharapkan dapat membantu tujuan pemerintah untuk mencapai target herd immunity atau kekebalan kelompok.

"Paling tidak bisa mengatasi autoimun, komorbid berat dan terkendala vaksin lain. Ini menjadi sebuah solusi maupun alternatif yang bisa digunakan," imbuh Terawan.


Terawan kemudian bercerita bahwa dirinya telah mengembangkan sel dendritik di cell cure center di RSPAD Gatot Subroto sejak tahun 2015. Setelah Corona mewabah, dia berinisiatif untuk mengembangkan virus berbasis sel dendritik.

Pihaknya bahkan telah mempublikasikan sejumlah jurnal ilmiah yang berkaitan dengan penelitian ini. Kendati demikian, jurnal tersebut kebanyakan masih berbasis sel dendritik untuk kanker, bukan untuk COVID-19.

Karena itulah ia berharap Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mengawal evaluasi hasil uji klinis I dari vaksin tersebut. "Jadi saya senangnya itu memang untuk riset. Mudah-mudahan ini bisa terus berlanjut supporting dari Kementerian Kesehatan dan BPOM," pungkasnya.

Sementara itu, pengembangan dan uji klinis vaksin Nusantara merupakan kerja sama antara PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) bersama AIVITA Biomedical yang berasal Amerika Serikat, Universitas Diponegoro serta RSUP dr. Kariadi Semarang. Vaksin ini diklaim dapat menciptakan antibodi yang bisa bertahan seumur hidup dalam melawan COVID-19.

Dalam hasil uji klinis fase I, vaksin Nusantara melaporkan sejumlah keluhan sistemik yang dialami oleh 20 relawan. Misalnya seperti nyeri otot, nyeri sendi, lemas, mual, demam hingga menggigil. Selain itu, 8 orang mengeluhkan berbagai gejala lokal seperti nyeri lokal, kemerahan, pembengkakan, penebalan, serta gatal pada titik suntik. Kendati demikian, sejumlah keluhan tersebut bisa sembuh dengan sendirinya tanpa obat.

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts