Buka-Bukaan Motif Jozeph Paul Zhang: 'Menista Agama' Demi Hak Beribadah Kaum Minoritas
YouTube/Jozeph Paul Zhang
Nasional
Penistaan Agama Jozeph Paul Zhang

Baru-baru ini Jozeph Paul Zhang membeberkan motif di balik berbagai pernyataan kontroversialnya yang dicap penistaan agama. Bahkan ia juga mengklaim Eropa lebih Pancasilais ketimbang Indonesia.

WowKeren - Nama Jozeph Paul Zhang terus ramai dibicarakan menyusul berbagai kontroversi bernuansa SARA yang melingkupinya. Mulai dari Jozeph yang mengaku sebagai Nabi ke-26 dan tak merasa bersalah karenanya, acapkali "menyerang" umat Muslim dan Nahdlatul Ulama, hingga menantang Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berdebat.

Namun Jozeph tampaknya tetap tenang meski sederet aksinya yang dilabeli sebagai penistaan agama itu membuatnya diburu kepolisian. Bahkan belum lama ini Jozeph berkenan membagikan sejumlah pernyataan dalam wawancara eksklusifnya dengan Jawa Pos.

Wawancara dilakukan oleh wartawan Dinarsa Kurniawan yang berlokasi di Berlin, Jerman melalui Zoom. Wawancara itu pun turut disiarkan langsung di kanal YouTube Hagios Europe, tempat Jozeph selama ini mengunggah konten-kontennya.

"Saya nggak tahu apa yang saya rasakan. Saya jalani hidup seperti biasa," tutur Jozeph ketika ditanya soal perasaannya pasca menjadi buruan polisi. Wartawan Dinarsa pun lantas menanyakan, apa sebenarnya motif di balik "keberanian" pria bernama asli Shindy Paul Soerjomoeljono ini hingga melontarkan berbagai pernyataan kontroversial soal agama.

Disebutkan oleh Jozeph, semua ia lakukan demi menjamin hak beribadah bagi kaum minoritas. "Terutama dobel minoritas, (agar) bisa hidup layak dan beribadah tampa rasa takut. Hak dan kewajiban sejajar, setara," tegas Jozeph, dikutip dari Jawa Pos, Jumat (23/4).


Ia lantas membandingkan situasi di Indonesia dan Eropa, yang menurutnya tak pernah memperlakukan kelompok manapun sebagai minoritas. "Sama dengan di Eropa. Saya Tionghoa tidak dianggap minoritas, Muslim pun tidak dianggap minoritas. Bukankah itu Pancasila yang sejati?" tuturnya.

Bahkan ia blak-blakan menilai Eropa lebih Pancasilais ketimbang Indonesia sendiri. "Apa di Eropa dengar persekusi agama di sini?" tanya Jozeph, merujuk pada sila pertama Pancasila yakni Ketuhanan yang Maha Esa.

"Justru orang-orang yang dipersekusi agama larinya ke sini," ujar Jozeph. "Apa semua dilakukan dengan anarkistis? Tidak ada. Satu-dua oknum itu dikit sekali."

"Masjid Ahmadiyah gede tuh, sementara masjidnya orang Syiah juga gede, di Indonesia weh dibakar seorang-orangnya Pak. Itu fakta," imbuhnya. "Jadi, lebih Pancasila mana? Lebih Pancasila Eropa daripada Indonesia."

Sedangkan untuk tantangan debat, diakui Jozeph, sasaran utamanya memang Menag Yaqut. Selain itu ia juga berharap bisa berdebat tentang kebenaran agama secara universal dengan Ketua PBNU Emhas Robikin dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Anwar Abbas.

"Yang lainnya, maaf, tidak akan berdampak dan tidak berguna," jelasnya. "Karena tidak merepresentasikan agama mayoritas di Indonesia."

Terkait dengan berbagai pernyataan kontroversialnya, Jozeph pun secara tersirat merasa tak bersalah walau mungkin dianggap menyakiti pihak lain. "Mengapa harus sakit hati? Kita itu boleh menyuarakan yang kita anggap benar," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts