Pemuda di Jakarta Dikabarkan Meninggal Sehari Pasca Disuntik AstraZeneca, Komnas KIPI Buka Suara
AP Photo/Frank Augstein
Nasional
Vaksin COVID-19

Seorang penerima vaksin berusia 22 tahun di Jakarta dilaporkan meninggal sehari setelah disuntik AstraZeneca. Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari pun menanggapinya.

WowKeren - Seorang pemuda berusia 22 tahun di Jakarta dikabarkan meninggal dunia sehari setelah menerima suntikan vaksin COVID-19 AstraZeneca. Dilaporkan mendiang Trio Fauqi Virdaus menerima suntikan vaksinnya pada Rabu (5/5), lalu mengalami sejumlah efek samping sampai berujung meninggal dunia keesokan harinya.

Masalah ini pun ditanggapi Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang masih terus menginvestigasi. Komnas KIPI mengaku belum bisa menentukan penyebab Trio meninggal dunia, meski laporan medis menunjukkan mendiang mengalami pembekuan darah (blood clot).

"Blood clot kan bisa di otak, paru, perut, dan kaki. Di kaki dan perut biasanya enggak menyebabkan kematian," jelas Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari, Senin (10/5).

"Biasanya yang menyebabkan kematian di otak dan di paru," imbuh Hindra, dilansir dari Kumparan, Senin (10/5). "Di paru dia enggak ada tanda-tanda sesak. Di otak (gejalanya) kejang, pusing. Namun gejala AstraZeneca juga ada pusing. Kemudian kejang, kata temen-temennya, kata keluarga enggak ada."


Hindra menyayangkan mendiang yang tidak segera menghubungi nomor penanganan KIPI segera setelah merasakan gejalanya. Padahal di kertas vaksinasi pun sudah tercantum kontak KIPI, namun Trio memilih pergi ke dokter langganannya.

Sayang kala itu sang dokter tak praktik sehingga Trio terlambat ditangani dan meninggal dunia keesokan harinya. Laporan medis pun menyebut mendiang meninggal akibat pembekuan darah.

Hindra membenarkan jika pembekuan darah pasca penyuntikan AstraZeneca memang beberapa kali ditemui di Eropa. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa kasus yang dialami Trio belum tentu disebabkan oleh AstraZeneca karena harus diautopsi untuk memastikan, sebuah opsi yang menurut Hindra sulit untuk ditempuh di Indonesia.

"Jadi memang kalau dari laporan kematian di UK dan Eropa dilakukan autopsi. Ketahuan. Di kita kalau kita lakukan autopsi juga bisa ketahuan, tapi mungkin keluarga enggak bersedia," ujar Hindra. "Jadi karena keadaan di kita, dan itu harus izin, jadi sulit menentukan kematian ini apa karena vaksin AstraZeneca, atau ada penyakit lain."

"Untuk penyakit lain kita harus tindak lanjuti, kan ada dokter langganannya apa ada riwayat dia sakit jantung, asma, dll, yang dikaitkan dengan kematian almarhum kemarin. Kemudian kita juga lihat dokter UGD akan kita wawancara lagi. Jadi belum bisa dipastikan, sampai saat ini, bukti yang ada belum cukup kuat," imbuhnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts