Niat Berburu Babi Hutan, Pria Ini Kaget Temukan Katak Sebesar Bayi Manusia
SerbaSerbi

Jodi Rowley, kurator biologi konservasi amfibi dan reptil di Museum Australia, mengatakan kepada Australian Geographic bahwa dia belum pernah melihat yang sebesar itu

WowKeren - Penduduk desa Kepulauan Solomon baru-baru ini dihebohkan dengan penemuan seekor katak yang tak biasa. Betapa tidak, katak tersebut memiliki ukuran raksasa seukuran bayi manusia.

Adalah Jimmy Hugo, pemilik tempat penggergajian kayu yang menemukan katak raksasa tersebut. Katak itu ia temukan saat mengejar babi hutan di Honiara. Menemukan katak seukuran itu, sudah barang tentu ia sangat kaget. "Saya tidak percaya apa yang saya lihat," ujarnya.

Katak besar ini sudah ia temukan sejak April lalu namun ia baru mengunggahnya ke media sosial baru-baru hingga kemudian viral. Pada foto yang diungghanya, terlihat seorang anak laki-laki yang memegang katak itu, yang memiliki tinggi dari setengah badan anak.

Hewan tak biasa itu diyakini sebagai katak berselaput yang biasa berhabitat di Pulau Shortland. Hewan ini memiliki ukuran 10 inci dari moncong ke pantatnya dengan berat sekitar 2,2 pon - lebih berat dari satu liter susu.


Jodi Rowley, kurator biologi konservasi amfibi dan reptil di Museum Australia, mengatakan kepada Australian Geographic bahwa dia "belum pernah melihat yang sebesar itu". Menurutnya, jarang ada katak yang bisa tumbuh hingga sebesar itu. Ia menilai katak tersebut sudah berusia tua.

"Sangat jarang mereka mencapai ukuran itu, jadi yang ini pasti sudah cukup tua," katanya. Meskipun katak Pulau Shortland termasuk yang terbesar di dunia, spesies katak terbesar adalah katak goliath, yang ditemukan di Kamerun dan dapat tumbuh sepanjang 13 inci dan berat hingga 7,2 pon.

Hugo mengatakan jika penduduk desa menjuluki katak besar di sana sebagai "ayam semak". Hal ini lantaran beberapa desa tampaknya lebih menyukainya daripada ayam. Namun katak semacam ini memang lebih sulit ditangkap.

Spesies semacam ini jumlahnya terus menurun lantaran degradasi habitat mereka. "Ini menyoroti pentingnya perlindungan habitat yang lebih besar," kata ahli biologi Kepulauan Solomon, Patrick Pikacha.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts