Ahli Biomolekuler Malah Sarankan Suntik Campur Vaksin COVID-19, Ini Alasannya
Unsplash/Julia Koblitz
Health
Vaksin COVID-19

Dr Ines Atmosukarto malah menganjurkan vaksinasi COVID-19 dosis ketiga menggunakan merek yang berbeda. Mengapa demikian? Begini penjelasan selengkapnya.

WowKeren - Perihal pencampuran vaksin COVID-19, alias imunisasi dengan dua merek vaksin berbeda, masih menjadi pro dan kontra. Namun nyatanya di beberapa negara praktik seperti ini sudah dilakukan, terutama untuk penyuntikan dosis ketiga vaksin COVID-19.

Namun sebenarnya bisakah hal ini dilakukan? Peneliti vaksin dan CEO Lipotek, Dr Ines Atmosukarto malah menyarankannya dan menegaskan tidak akan ada masalah yang ditimbulkan.

Ines menyebut, penggunaan vaksin berbeda untuk vaksinasi dosis ketiga seharusnya tidak akan menimbulkan masalah serius karena stimulasi imun yang timbul akan berbeda. "Secara teori tidak ada masalah bahkan mungkin sangat baik karena stimulasi sistem imunnya (setiap vaksin) berbeda-beda," ungkap Ines kepada Kumparan, Sabtu (12/6).

Doktor molekuler dan biologi seluler dari Universitas Adelaide, Australia itu menegaskan anjuran agar vaksinasi dosis ketiga menggunakan merek lain demi perluasan respons imun di tubuh penerimanya. Namun tentu saja usulan ini baru bisa dilakukan jika ketersediaan dosis vaksin telah mencukupi hingga dosis kedua bagi seluruh target penerima vaksin.


"Karena itu dianjurkan apabila bisa memungkinkan dan apabila memang tersedia extra doses, dalam arti semua target sudah mendapat lengkap dua dosis vaksin apa pun," ujar Ines. "Makanya dianjurkan booster dengan vaksin yang berbeda untuk memperluas dan memperkuat respons imun."

Meski demikian, rencana penyuntikan dosis ketiga vaksin COVID-19 di Indonesia masih belum bisa dipastikan. Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, sebelumnya menegaskan bahwa pihaknya masih fokus untuk mengejar dua dosis vaksinasi COVID-19 demi mencapai target herd immunity secepatnya.

"Ayo kita konsen dulu percepatan suntikan dua dosis. Yang jelas sesuai uji klinis mencapai 181,5 juta," tegas Siti Nadia, Rabu (9/6). Namun pihaknya tetap membuka diri dengan opsi suntikan dosis ketiga selama mendapat rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), para ahli, serta ITAGI.

Di sisi lain, Indonesia saat ini sudah menggunakan vaksin Sinovac dan AstraZeneca untuk vaksinasi secara luas. Vaksin Sinopharm sedianya akan dipakai untuk Vaksin Gotong Royong yang siap dimulai. Sedangkan ke depannya vaksin Pfizer dan Moderna juga siap masuk serta diedarkan di Indonesia.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts