Banyak Nakes Positif COVID-19 Meski Telah Divaksin, Satgas Buka Opsi Suntik Dosis Ketiga?
Flickr/unwomenasiapacific
Nasional
Vaksin COVID-19

Jubir Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito menjelaskan penyebab tenaga kesehatan, yang notabene sudah menerima suntikan penuh vaksin, tetap terinfeksi virus Corona.

WowKeren - Ledakan kasus COVID-19 di beberapa daerah bukan cuma rawan menginfeksi masyarakat tetapi juga tenaga kesehatan. Tak sedikit nakes yang kemudian terinfeksi virus Corona, padahal mereka seharusnya sudah mendapat suntikan dua dosis vaksin sebagai perlindungan tambahan.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 pun ikut menanggapi soal fenomena nakes terinfeksi ulang virus Corona ini. Ditegaskan oleh Satgas COVID-19, perlindungan yang terbentuk usai penyuntikan vaksin ini berbeda pada setiap orang.

"Seharusnya semakin tinggi titer antibodi dari orang yang divaksinasi, karena reaksi setiap orang berbeda, tentunya akan memberi proteksi yang lebih baik," terang Juru Bicara Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, dalam konferensi pers daringnya, Selasa (15/6). Konferensi pers ini turut diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden.

Wiku tak menampik bila kasus infeksi COVID-19 pasca penyuntikan vaksin memang bisa saja terjadi, tergantung pada reaksi tubuh setiap penerimanya. Karena itulah, Wiku juga tidak menutup opsi bila nakes harus menerima dosis tambahan vaksin COVID-19.


"Vaksinasi ulang bisa saja diperlukan apabila jumlah titer antibodi yang ada di seseorang tersebut, setelah divaksinasi, tidak cukup bisa untuk menghadang dari potensi tertular COVID-19 ini," sambung Wiku.

Perkara vaksinasi dosis ketiga memang beberapa kali mengemuka belakangan ini. Bahkan pakar biomolekuler menyarankan agar penyuntikan booster vaksin COVID-19 tersebut menggunakan merek berbeda dengan vaksinasi pertama dan kedua demi menciptakan efek antibodi lebih baik.

Namun Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, sebelumnya menegaskan saat ini pemerintah fokus menyuntikkan dua dosis vaksin COVID-19 kepada seluruh masyarakat. Harapannya tentu saja supaya herd immunity bisa segera terbentuk di Indonesia.

"Ayo kita konsen dulu percepatan suntikan dua dosis. Yang jelas sesuai uji klinis mencapai 181,5 juta," tegas Nadia kepada Kumparan, Rabu (9/6). Kendati demikian, Kemenkes tak menutup kemungkinan jika ada rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun para ahli dan ITAGI.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts