Bahas Konsep 'Ikoy-ikoyan', Arief Muhammad: Bukan Memberantas Kemiskinan
Instagram/ariefmuhammad
Selebriti
Tren Ikoy-Ikoyan

Arief Muhammad mengaku tak masalah dengan tanggapan kontra mengenai tren Ikoy-ikoyan. Menurut Arief, mereka hanya tidak memahami konsep Ikoy-ikoyan yang diciptakan olehnya.

WowKeren - Arief Muhammad mengabulkan permintaan para followers-nya melalui tren "Ikoy-ikoyan". Tren tersebut rupanya menjadi viral lantaran netizen meminta idolanya untuk melakukan hal yang sama.

Namun tak semua artis Tanah Air menanggapi todongan untuk ikut tren "Ikoy-ikoyan" dengan senang hati. Banyak yang salah paham dan menganggap Arief Muhammad mengajari para followers-nya untuk menjadi pengemis.

Saat hadir di kanal YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo, Arief Muhammad mengaku tak terganggu dengan pendapat kontra tentang tren "Ikoy-ikoyan". "Jujur kalo dengan kontranya gue enggak terganggu karena gue ngeliat semua statement yang kontra sama gue itu salah pemahaman," tutur Arief dalam vlog yang dibagikan pada Sabtu (7/8).

Arief Muhammad kemudian membahas salah satu pendapat kontra mengenai tren "Ikoy-ikoyan". Bantuan Arief dianggap tidak tepat sasaran lantaran memberi kepada orang yang setidaknya memiliki ponsel dan kuota internet.

"Ada yang kemarin gue baca kontra bilang 'Ini itu salah sasaran. Harusnya kalo fakir miskin yang beneran itu justru yang nggak punya handphone. Kalo loe masih punya handphone, kalo loe masih punya sosial media, ya berarti loe nggak miskin-miskin amat jadi salah sasaran kalo dibantu'," terang Arief.


Menanggapi pendapat tersebut, Arief menegaskan apabila konsep "Ikoy-ikoyan" bukan untuk memberantas kemiskinan. "Itu menurut gue totally wrong karena dari awal gue selalu bilang Ikoy-ikoyan itu berbagi kebahagiaan, bukan memberantas kemiskinan," beber Arief.

Arief Muhammad rupanya juga telah menjalankan tren "Ikoy-ikoyan" ini selama beberapa bulan meski baru tren belakangan ini. Sekali lagi Arief menegaskan apabila aksinya tersebut hanya untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang pilihannya.

"Analoginya gini, kita punya tetangga keluarga sederhana, nggak miskin-miskin banget, nggak kaya-kaya banget. Dia nyuci pake tangan, capek, anaknya banyak segala macem. Trus gue pengin bikin tetangga gue happy, gue pengin beliin mesin cuci. Masak nggak boleh?" tanya Arief.

"Masak kita harus scanning dulu 'Tetangga gue masih punya sepeda motor sih, kayaknya dia nggak miskin-miskin amat, nggak usah dibantu ah' kan nggak gitu konsepnya. Kalo mau bikin happy kan bisa siapa aja," tandasnya.

(wk/nere)

You can share this post!

Related Posts