Paralimpiade Tokyo Baru Dimulai, Jepang Malah Perluas Darurat COVID-19 ke 21 Daerah
AFP/Charly Triballeau
Dunia
Pandemi Virus Corona

Paralimpiade Tokyo resmi dibuka pada Selasa (24/8). Namun Jepang malah berencana memperluas cakupan status darurat COVID-19 ke 8 perfektur lagi mulai Jumat (27/8).

WowKeren - Jepang kembali menjadi tuan rumah turnamen olahraga internasional yakni Paralimpiade yang resmi dibuka pada Selasa (24/8) malam waktu setempat. Namun parade olahraga itu malah ditanggapi Jepang dengan perluasan cakupan status darurat COVID-19 di negaranya.

Diketahui Jepang sudah menerapkan status darurat COVID-19 di 13 perfektur, termasuk Tokyo yang menjadi tuan rumah pelaksanaan Paralimpiade. Dan sedianya Rabu (25/8) hari ini Perdana Menteri Yoshihide Suga akan mengumumkan perluasan cakupan darurat COVID-19 ke 8 perfektur lagi.

Rencananya, mulai Jumat (27/8) besok, kedelapan perfektur baru ini akan melakukan pembatasan ketat sesuai ketentuan darurat COVID-19 hingga 12 September 2021. Kedelapan perfektur itu meliputi Hokkaido, Miyagi, Gifu, Aichi, Mie, Shiga, Okayama, dan Hiroshima.

Beberapa pembatasan yang akan diterapkan seperti tidak ada restoran yang boleh menyediakan layanan minuman beralkohol maupun karaoke. Mereka juga diinstruksikan untuk mengakhiri operasional pukul 20.00.


Fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan diminta membatasi jumlah pengunjung yang bisa masuk dalam satu waktu. PM Suga juga meminta warga memperbanyak waktu di rumah sehingga kepadatan pejalan kaki berkurang setengah, begitu pula penumpang kereta komuter berkurang hingga 70 persen.

Tak hanya itu, Jepang juga akan memperluas cakupan status darurat sebagian (quasi emergency) dari 16 menjadi 20 perfektur. Tambahan 4 perfektur yang dimaksud adalah Kochi, Saga, Nagasaki, dan Miyazaki.

Langkah ini ditempuh setelah Jepang mencatatkan gelombang infeksi virus Corona terbesar yang pernah mereka alami. Seperti pada Selasa (24/8) waktu setempat, Jepang mencatatkan 21.569 kasus positif COVID-19 baru, dengan 4.220 di antaranya dilaporkan di Ibu Kota Tokyo. Angka 21 ribu kasus baru ini pun tiga kali melampaui puncak kasus pada April dan Mei lalu.

Krisis diperburuk dengan tingginya tingkat keterisian rumah sakit. Alhasil kini banyak pasien COVID-19 dengan gejala ringan tidak bisa dirawat di pusat layanan kesehatan, sebuah pola yang juga ditemui di beberapa negara dengan "ledakan" kasus COVID-19 seperti Indonesia dan India.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts