Pertama Kalinya, Pasien COVID-19 Terkait Paralimpiade Tokyo Harus Dirawat di Rumah Sakit
Instagram/paralympics
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pada Kamis (26/8) hari ini, pihak penyelenggara juga mengumumkan total 15 kasus positif virus corona (COVID-19) baru terkait Paralimpiade Tokyo 2020, dua di antaranya adalah atlet.

WowKeren - Paralimpiade Tokyo 2020 telah resmi dimulai Selasa (24/8) lalu. Baru dua hari berlangsung, Paralimpiade Tokyo melaporkan kasus COVID-19 pertama yang membutuhkan perawatan medis di rumah sakit.

Seorang staf Paralimpiade dari luar negeri dilaporkan harus dirawat di rumah sakit akibat infeksi COVID-19. Hal ini diumumkan pada Kamis (26/8) hari ini.

Pihak penyelenggara menyatakan gejala pasien yang masuk rumah sakit akibat COVID-19 tersebut "tidak serius". Pada hari ini, pihak penyelenggara juga mengumumkan total 15 kasus COVID-19 baru terkait Paralimpiade.

Dua di antaranya merupakan atlet. Mereka dinyatakan positif terinfeksi di Kampung Atlet Paralimpiade.


Sementara itu, 10 orang lainnya adalah pekerja kontrak, dan tiga orang sisanya merupakan staf Paralimpiade. Empat dari total 15 kasus tersebut merupakan orang dari luar negeri, sedangkan 11 pasien lainnya merupakan warga Jepang.

Sebagai informasi, pihak penyelenggara Paralimpiade Tokyo mulai merilis jumlah kasus infeksi COVID-19 baru mulai 12 Agustus 2021 lalu. Hingga saat ini, total ada 184 orang terkait Paralimpiade yang dinyatakan positif COVID-19. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang membutuhkan perawatan rumah sakit hingga kasus terbaru pada hari ini.

Di sisi lain, Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach baru-baru ini menuai hujatan. Pasalnya, Bach dilaporkan kembali ke Tokyo hanya demi menghadiri upacara pembukaan Paralimpiade di tengah "banjir" kasus COVID-19 Jepang.

Penasihat COVID-19 top Jepang, Shigeru Omi, menyebut Bach tidak ada nurani lantaran gagal menyadari seberapa besar krisis kesehatan yang dihadapi Jepang. "Saya heran mengapa dia bersikeras datang. Dia seharusnya bisa memahami kondisinya dengan penuh kesadaran," ujar Omi dalam sesi panel di parlemen, dikutip dari Kyodo News, Kamis (26/8).

Sikap Bach ini juga dikhawatirkan bisa mengirimkan pesan yang salah untuk warga Jepang yang sudah lelah dengan pandemi COVID-19. Apalagi karena pembatasan ketat malah semakin diperpanjang dan diperluas, memicu timbulnya kelelahan pandemi.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts