Sebelumnya, Joe Biden mengutuk keras aksi bom bunuh diri yang terjadi di dekat Bandara Kabul dan bersumpah bahwa AS akan melakukan serangan pembalasan.
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 28 Agustus 2021 - 13:43 WIB
WowKeren - Serangan bom bunuh diri yang terjadi di dekat Bandara Kabul, Afghanistan pada Kamis (26/8) memakan banyak korban jiwa. Jumlah korban dilaporkan mencapai 170 orang, sebagaimana dilaporkan media Amerika Serikat pada Jumat (27/8) waktu setempat.
Serangan yang diklaim didalangi oleh Negara Islam itu menewaskan 13 pasukan Amerika dan lebih dari 100 warga Afghanistan. Tak tinggal diam, AS pun segera melancarkan serangan balasan.
Komando Pusat AS mengatakan "operasi kontraterorisme" dilakukan terhadap "perencana ISIS-K," mengacu pada afiliasi kelompok ekstremis Negara Islam. Juru bicara Kapten Bill Urban mengatakan tidak ada korban sipil yang tewas dalam serangan balasan itu.
"Indikasi awal adalah bahwa kami membunuh target itu," ujarnya dalam sebuah pernyataan. "Sejauh yang kami tahu tidak ada korban sipil."
Sebelumnya, Biden mengutuk keras aksi bom bunuh diri itu dan bersumpah bahwa AS akan melakukan serangan pembalasan. Kondisi bandara padat mengingat banyak orang Amerika dan lainnya berkumpul untuk mengungsi dari negara yang diambil alih oleh kelompok militan Taliban.
Kecaman ini pun tak hanya sebatas isapan jempol belaka. Pada konferensi pers yang digelar hari Kamis (26/8), Biden mengatakan dia telah memerintahkan komandan militer untuk mengembangkan rencana untuk menyerang aset, kepemimpinan, dan fasilitas ISIS-K sebagai pembalasan.
"Kami akan merespons dengan kekuatan ketika tiba saat yang tepat," kata Biden. "Di tempat yang kami pilih, dan momen yang kami pilih."
Serangan mematikan di dekat bandara Kabul juga menyebabkan setidaknya 200 orang terluka, sebagaimana dilaporkan ABC News dan media lainnya. Pentagon mengonfirmasi bahwa satu dari dua bom itu meledak di pintu masuk Abbey Gate ke bandara Kabul sedangkan satunya lagi meledak di Hotel Baron di dekatnya.
Hotel itu pernah menjadi titik berkumpulnya warga Amerika di masa lalu untuk penyelamatan dan evakuasi, lapor media AS. Afiliasi kelompok Negara Islam yang disebut ISIS-K mengaku bertanggung jawab atas insiden itu.
(wk/zodi)