Dua ledakan bom bunuh diri terjadi di sekitar Bandara Kabul, Afghanistan yang tengah ricuh akibat upaya evakuasi warga pasca Taliban menguasai negara. 73 orang dilaporkan tewas.
- Elvariza Opita
- Jumat, 27 Agustus 2021 - 08:05 WIB
WowKeren - Ketidakstabilan kondisi ditambah dengan kerusuhan yang tak henti di Bandara Kabul, Afghanistan, sempat memicu kekhawatiran akan timbulnya serangan tingkat tinggi termasuk terorisme. Dan benar saja, dua ledakan bom bunuh diri serta aksi penembakan brutal terjadi di sekitar kawasan tersebut hingga berujung menewaskan 73 orang.
Tenaga medis mengonfirmasi kepada Al Jazeera, setidaknya 60 warga Afghanistan meninggal dan banyak lainnya dilarikan ke rumah sakit karena terluka akibat serangan yang terjadi. Sedangkan Pentagon mengonfirmasi 13 pasukannya ikut meregang nyawa dalam peristiwa tersebut.
Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengutuk keras insiden tak berperikemanusiaan tersebut. Apalagi setelah kelompok ekstremis Negara Islam di Provinsi Khorasan (ISKP / ISIS-K) yang terafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIL / ISIS) di Afghanistan mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut, sebagaimana diungkap oleh media propaganda mereka Amaq News Agency.
"Kami akan memburu dan Anda harus membayar ini semua," tegas Biden. Sedangkan Juru Bicara Pentagon AS, John Kirby, menjelaskan bahwa dalam peristiwa ini terjadi dua kali ledakan bom bunuh diri.
Yang pertama terjadi di dekat pintu masuk Bandara Kabul di Abbey Gate. Salah satu pelaku bom bunuh diri menyerang warga Afghanistan yang berdiri setinggi lutut di dekat saluran air limbah, menyebabkan jenazah korban ledakan banyak yang masuk ke dalam air busuk tersebut.
Sedangkan ledakan kedua terjadi di dekat Hotel Baron. Hotel itu sendiri menjadi titik kumpul warga Afghanistan, Inggris, dan AS yang hendak dievakuasi melalui Bandara Kabul.
Dalam sejarahnya, ISKP memang kerap melancarkan serangan brutal terutama untuk kaum minoritas Muslim Syiah di Afghanistan. Salah satunya serangan di Rumah Sakit Ibu dan Anak di Kabul pada 2020 lalu, yang tentu saja menewaskan banyak ibu serta bayi.
Serangan ini sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak pihak menyusul Taliban yang membebaskan narapidana terorisme setelah berhasil menguasai Afghanistan. Sedangkan di sisi lain, penyerangan yang terjadi tak membuat AS berhenti mengevakuasi warganya meski tetap saja tidak selancar sebelumnya.
"Operasi evakuasi di Kabul tidak akan berakhir dalam 36 jam. Kami akan terus mengevakuasi sebanyak mungkin orang sampai batas akhir misi kami," tegas Kirby.
(wk/elva)