Kasus COVID-19 Pada Anak Di Bawah 18 Tahun Di Malaysia Mengalami Kenaikan, Puluhan Anak Meninggal
Dunia
Pandemi Virus Corona

Malaysia melaporkan kasus COVID-19 pada anak di bawah usia 18 tahun mengalami kenaikan. Hal ini lantas berpengaruh pada angka kematian pada anak akibat COVID-19.

WowKeren - Pandemi COVID-19 yang terjadi di negara dunia hingga saat ini belum juga berakhir. Bahkan di sejumlah negara justru mengalami kenaikan kasus hingga kematian COVID-19.

Seperti yang terjadi di Malaysia pada Senin (20/9) hari ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menuturkan bahwa ada peningkatan kasus COVID-19 pada anak usia di bawah 18 tahun. Berdasarkan data per Minggu (19/9) kemarin, tercatat ada 67 anak di bawah 18 tahun yang meninggal akibat COVID-19.

Melansir malaymail, Kemenkes menuturkan bahwa angka itu jauh lebih besar dibandingkan dengan data kematian COVID-19 pada anak di tahun 2020. Pada tahun 2020, tercatat hanya ada 6 anak yang meninggal akibat COVID-19.

"Dengan demikian, Kemenkes menargetkan 60 persen remaja berusia 12 hingga 17 tahun untuk mendapatkan setidaknya satu dosis vaksin pada November," terang Kemenkes dalam pernyataan Senin (20/9). "Dan 80 persen dari mereka yang memenuhi syarat untuk divaksinasi telah diinokulasi sepenuhnya sebelum sekolah dibuka kembali untuk tahun 2022."


Di sisi lain, beberapa negara bagian di semenanjung pada Senin (20/9) hari ini, mulai melangsungkan pelaksanaan vaksinasi COVID-19 atau Program Imunisasi Nasional (PICK) COVID-19 bagi remaja. Kegiatan ini menyusul wilayah Sarawak, Sabah, dan Labuan yang telah terlebih dahulu melaksanakan program tersebut.

Seperti yang diketahui, vaksinasi COVID-19 dalam penanganan menghadapi pandemi dinilai sangat efektif. Hal ini lantaran untuk mencapai kekebalan komunal atau herd immunity, dengan begitu bisa mengendalikan pertumbuhan kasus COVID-19.

Adapun pelaksanaan PICK itu diluncurkan secara resmi oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Malaysia, Khairy Jamaluddin. Jamaluddin menargetkan partisipasi vaksinasi COVID-19 sebesar 3,2 juta remaja berusia 12 hingga 17 tahun.

Jamaluddin menerangkan bahwa program tersebut dilaksanakan dalam rangka persiapan pembukaan kembali sekolah tatap muka pada bulan Oktober nanti. Dengan begitu, diharapkan bisa mengurangi risiko terpaparnya COVID-19 terhadap para siswa dan terjadinya klaster dan kasus di kalangan sekolah.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts