Kemendikbudristek Ungkap Ribuan Sekolah Laporkan Kasus COVID-19 di Masa PTM Terbatas
Pexels/Max Fischer
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Adapun ribuan sekolah yang melaporkan kasus COVID-19 tersebut ditemukan berdasarkan hasil survei Kemendikbudristek terhadap 46.500 sekolah hingga 20 September.

WowKeren - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengungkapkan ada 2,8 persen atau 1.296 sekolah yang melaporkan penularan COVID-19 selama pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas. Adapun ribuan sekolah yang melaporkan kasus COVID-19 tersebut ditemukan berdasarkan hasil survei Kemendikbudristek terhadap 46.500 sekolah hingga 20 September.

"Kemudian kasus penularan itu kira-kira 2,8 persen yang melaporkan," jelas Direktur Jenderal (Dirjen) PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbudristek, Jumeri, dilansir CNN Indonesia.

Berdasarkan sebarannya, penularan COVID-19 selama PTM terbatas paling banyak dilaporkan oleh SD, dengan 581 sekolah. Lalu 252 PAUD, 241 SMP, 107 SMA, 70 SMK, dan 13 Sekolah Luar Biasa (SLB). Meski demikian, Jumeri tidak menjelaskan di daerah mana saja sekolah dengan penularan COVID-19 itu berada.

Di lingkungan SD, kasus COVID-19 di kalangan guru dan tenaga kependidikan mencapai 3.174 orang. Sedangkan di kalangan peserta didik, jumlahnya mencapai 6.908 kasus COVID-19.


Kemudian di lingkungan SMP, tercatat ada 1.502 guru dan 2.220 siswa yang dinyatakan positif COVID-19. Sedangkan di lingkungan PAUD, ada 2.007 tenaga pendidik dan 953 siswa yang dinyatakan positif COVID-19.

Di lingkungan SMA, ada 1.915 guru dan 794 siswa yang dinyatakan positif COVID-19. Sedangkan di lingkungan SMK terdapat 1.594 guru dan 609 siswa yang positif COVID-19. Di lingkungan SLB, terdapat 131 siswa dan 112 guru yang dinyatakan positif COVID-19.

Di sisi lain, anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDIP, Rahmad Handoyo, meminta agar klaster penyebaran COVID-19 di sekolah menjadi perhatian bersama. Rahmad menyoroti kasus di SMPN 4 Mrebet Purbalingga yang mencatatkan 90 siswa positif COVID-19.

"Ini harus jadi perhatian bersama, bahwa klaster sekolah Indonesia kan sudah menjadi perhatian WHO, artinya apa bahwa kita harus hati-hati, harus waspada bahwa klaster sekolah di kita itu nyata, perlu perhatian dan dampak di lapangan kan sudah ada," jelas Rahmad kepada awak media, Selasa (21/9).

Menurut Rahmad, perlu ada konsolidasi secara menyeluruh terkait kesiapan PTM terbatas. Meski pemerintah telah memberikan izin pembukaan sekolah, hal tersebut harus dibarengi dengan adanya persiapan yang matang.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts