Australia Berpotensi Hadapi Kekurangan Pangan Imbas Pandemi COVID-19
ABC News/Greg Nelson
Dunia
Pandemi Virus Corona

Warga dapat menghadapi kekurangan makanan dan kesulitan mendapatkan produk tertentu ketika NSW dan Victoria buka, jika ribuan pekerja dipaksa untuk mengisolasi diri.

WowKeren - Melonjaknya harga grosir gas alam Eropa berimbas pada menurunnya pasokan karbon dioksida, yang mana hal ini turut mempengaruhi kelancaran rantai pasokan pangan. Rak supermarket minuman berkarbonasi dan air bahkan kosong di beberapa tempat.

Tak hanya itu, produsen kalkun memperingatkan bahwa orang-orang bisa kekurangan pangan jika kekurangan karbon dioksida berlanjut. Hal ini diperburuk dengan berkurangnya tenaga kerja di bidang distribusi, termasuk salah satu penyebabnya masih terkait pandemi.

Hal serupa kini terjadi di Australia. Warga dapat menghadapi kekurangan makanan dan kesulitan mendapatkan produk tertentu ketika NSW dan Victoria buka, jika ribuan pekerja dipaksa untuk mengisolasi diri ketika mereka bersentuhan dengan kasus COVID-19.

Australian Food & Grocery Council (AFGC) telah memperingatkan dampak pasokan bahan makanan bisa serupa dengan apa yang dialami di Inggris. Krisis rantai pasokan yang semakin parah berdampak pada supermarket yang mengalami kelangkaan roti, susu, ayam, air minum kemasan, dan minuman ringan.


Kepala eksekutif AFGC Tanya Barden mengatakan di Di NSW dan Victoria, produsen telah dihadapkan dengan kondisi di mana 25-60 persen karyawan mereka harus dikarantina. Alhasil, kondisi ini menyebabkan produksi berhenti atau melambat.

"Akibat COVID-19 ketika mereka membuka ekonomi mereka di Inggris, orang-orang yang dianggap sebagai kontak dekat harus diisolasi," kata Barden kepada news.com.au. "Yang berarti kekurangan tenaga kerja yang besar dan menghentikan produksi dan kekurangan produk yang signifikan."

Setelah pandemi memicu panic buying di Australia, Barden mengatakan produsen mencoba meningkatkan produksi, menyimpan lebih banyak stok, dan memberikan waktu tunggu yang lebih lama pada produk. "Sekarang persediaan mulai berkurang karena mereka mengalami lonjakan penguncian tambahan dan peningkatan permintaan," ungkapnya.

Ms Barden mengatakan Dewan mendorong pemerintah menawarkan pendekatan baru. Ia meminta agar pekerja yang sudah divaksin dengan dosis penuh dan tidak menunjukkan gejala serta hasil tes COVID-19 negatif maka bisa tetap bekerja. "Sehingga mereka dapat terus berproduksi dan menghindari kekurangan pangan ini," tegasnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts