Tetap Santai Liput Berita, Reporter Ini Rela Masuk ke Air Banjir Setinggi Dada Tuai Sorotan
pixabay.com/Ilustrasi/Hermann
SerbaSerbi

Seorang reporter CNA turun ke lapangan untuk meliput secara langsung kondisi banjir yang buruk di Thailand. Ia terlihat berdiri di genangan air setinggi dada orang dewasa.

WowKeren - Selain menghadapi dampak pandemi COVID-19 yang masih menjadi perhatian, Thailand kini dihadapkan pada masalah lain. Saat ini, wilayah utara dan tengah negara itu harus menghadapi dampak banjir. Washington Post melaporkan bahwa lebih dari 280.000 rumah telah terdampak di lebih dari 30 provinsi.

Masyarakat di sepanjang Sungai Chao Phraya juga diperingatkan untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir mulai Kamis hingga Minggu, menurut Bangkok Post. Kondisi banjir di Thailand cukup menuai sorotan, dengan kantor berita CNA yang baru-baru ini turut menerjunkan reporternya untuk melaporkan situasi langsung dari lapangan.

CNA menunjukkan keadaan buruk yang dialami beberapa petani di provinsi Chaiyaphum dan bagaimana sektor pertanian telah mengatasinya sejauh ini. Reporternya, May Wong, pun turun ke lapangan untuk meliput berita. Dan tentu saja, ia juga harus terjun langsung ke area banjir di mana air menggenang hingga setinggi dada orang dewasa yang mungkin tampak seperti dirinya tengah berada di sungai.


"Anda mungkin berpikir bahwa ini adalah sungai yang Anda lihat, melewati bahu saya," katanya. "Tapi Anda salah. Ini dulunya adalah tanah kering."

Wong kemudian melanjutkan untuk melaporkan bahwa para petani pernah dapat berjalan melintasi sawah dan mengendarai traktor mereka di atasnya. Yang mana, tugas itu sekarang tidak mungkin dilakukan lantaran kondisi banjir. Dan untuk melihat seberapa buruk banjir itu, kamera diperbesar untuk mengungkapkan bahwa Wong benar-benar berdiri di air setinggi dada.

Wong lebih jauh mengatakan jika ketinggian air bisa lebih buruk lagi jika ia berjalan lebih jauh melintasi ladang itu. Dalam sebuah tweet, Wong mengatakan bahwa dia diberitahu jika situasi saat ini di Chaiyaphum lebih buruk daripada banjir besar terakhir, yang terjadi pada tahun 2011 silam.

Banjir yang terjadi satu dekade lalu itu dipicu oleh badai tropis, Nock-ten, yang melanda 69 provinsi. Banjir tersebut berdampak pada 12,8 juta orang dan menyebabkan 728 kematian.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts