Taliban seolah mengingkari janjinya untuk membuka kembali sekolah bagi anak perempuan di Afghanistan. Tetapi hingga kini belum juga dibuka, sehingga memicu desakan dari kaum perempuan.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Rabu, 13 Oktober 2021 - 19:03 WIB
WowKeren - Belakangan ini, Taliban menyerukan keinginannya untuk menjalin hubungan baik dengan negara-negara di dunia. Akan tetapi, di lain sisi, Taliban dinilai telah mengingkari janjinya soal memberikan hak pendidikan dan bekerja bagi perempuan.
Kini, muncul desakan dari para perempuan di Afghanistan yang menuntut kepada Taliban agar kembali memberikan haknya atas pendidikan. Salah seorang warga Kabul, Rahela Nussrat (17), yang saat ini tengah duduk di tahun terakhir sekolah menengah, tetapi belum dapat menghadiri kelas lantaran penguasa baru Afghanistan telah memutuskan untuk "menjauhkan" para perempuan dari sekolah untuk saat ini.
Sebelumnya, pada bulan September, Taliban telah mengumumkan bahwa sekolah akan kembali dibuka, tetapi hanya untuk anak laki-laki. Langkah ini tentunya memicu pertanyaan tentang kebijakan Taliban atas pendidikan perempuan.
Tetapi Taliban mengatakan bahwa "lingkungan belajar yang aman" diperlukan sebelum anak perempuan yang lebih tua dapat kembali ke sekolah. Kemudian pihaknya juga menambahlan bahwa sekolah bagi perempuan akan dibuka kembali "sesegera mungkin", tanpa memberikan jangka waktu.
"Pendidikan adalah salah satu Hak Asasi Manusia (HAM) yang paling mendasar, tetapi hari ini, hak dasar itu telah diambil dari saya dan jutaan perempuan Afghanistan lainnya," terang Nussrat kepada Al Jazeera.
Sejauh ini, perempuan Afghanistan telah berjuang untuk mendapatkan haknya kembali ke sekolah. Perjuangan ini pun telah dilakukan selama pemerintahan Presiden Ashraf Ghani yang didukung Barat.
Sementara itu, menurut survei 2015 yang disiapkan untuk UNESCO oleh Forum Pendidikan Dunia, hampir 50 persen sekolah Afghanistan tidak memiliki bangunan yang dapat digunakan. Kemudian, lebih dari 2,2 juta anak perempuan Afghanistan tidak bisa bersekolah seperti tahun lalu, 60 persen di dari total anak putus sekolah di negara tersebut.
Ketidakjelasan Taliban soal pembukaan kembali sekolah menengah pada perempuan ini telah memperparah masalah dan merupakan pukulan bagi jutaan anak perempuan, terutama mereka yang mengira akhir perang bisa kembali hidup normal. "Ketika pemerintah Afghanistan jatuh, saya kehilangan hak atas pendidikan, ini pertama kalinya saya menangis khusus karena jenis kelamin saya," jelas Nussrat.
Nussrat menjelaskan bahwa ia tidak memahami tujuan dari Taliban menjauhkan anak perempuan dari sekolah. Menurutnya, hal ini nantinya akan menjadi bumerang bagi mereka.
(wk/tiar)