Facebook juga akan menghapus faceprint lebih dari satu miliar penggunanya. Adapun keputusan ini diumumkan ketika Facebook mencoba untuk bangkit dari skandal yang tengah menyelubungi perusahaannya.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 03 November 2021 - 10:56 WIB
WowKeren - Facebook mengumumkan keputusannya untuk mencabut sistem face recognition alias rekognisi wajahnya. Selain itu, Facebook juga akan menghapus faceprint lebih dari satu miliar penggunanya.
"Banyak contoh spesifik dimana rekognisi wajah dapat membantu perlu dipertimbangkan terhadap kekhawatiran yang berkembang tentang penggunaan teknologi ini secara keseluruhan," jelas Jerome Pesenti selaku Wakil Presiden Kecerdasan Buatan untuk perusahaan induk baru Facebook, Meta.
Adapun keputusan ini diumumkan ketika Facebook mencoba untuk bangkit dari skandal yang tengah menyelubungi perusahaannya. Termasuk dari mantan karyawan Facebook, Frances Haugen, yang pertama kali menyuarakan soal isu perusahaan yang lebih memedulikan profit di atas segalanya.
"Ada banyak kekhawatiran tentang tempat teknologi rekognisi wajah di masyarakat, dan regulator masih dalam proses memberikan seperangkat aturan yang jelas yang mengatur penggunaannya," tambahnya. "Di tengah ketidakpastian yang sedang berlangsung ini, kami percaya bahwa membatasi penggunaan rekognisi wajah pada serangkaian kasus penggunaan yang sempit adalah tepat."
Melansir Al Jazeera, para aktivis dan akademisi telah menyuarakan keprihatinan terkait algoritme yang mendukung program rekognisi wajah selama bertahun-tahun. Pasalnya, algoritme tersebut dinilai dapat menimbulkan bias secara rasial dan bisa digunakan untuk menargetkan orang kulit hitam dan cokelat, memicu ketidaksetaraan, serta memperburuk ketidakadilan sosial.
"Lebih dari sepertiga pengguna aktif harian Facebook telah memilih pengaturan Rekognisi Wajah kami dan dapat dikenali, dan penghapusannya akan mengakibatkan penghapusan lebih dari satu miliar templat pengenalan wajah individu," papar Presenti. Ia juga menambahkan bahwa regulator "masih dalam proses memberikan seperangkat aturan yang jelas yang mengatur" penggunaan alat rekognisi wajah.
Sebagai informasi, Facebook belakangan diterpa kontroversi yang melukai citranya akibat Frances Haugen. Wanita tersebut membocorkan dokumen yang menunjukkan bahwa peneliti Facebook sendiri tahu produknya memfasilitasi ekstremisme dan mengeksploitasi pengguna yang rentan seperti gadis remaja, namun eksekutif perusahaan tidak melakukan apa pun untuk mengurangi bahaya tersebut.
Adapun CEO Facebook Mark Zuckerberg baru saja mengumumkan perubahan nama perusahaannya. Kini perusahaan induk yang turut menaungi Facebook Messenger, Instagram, dan WhatsApp itu berganti nama menjadi Meta, merujuk pada fokus perusahaan di bidang Metaverse.
Namun pada Senin (1/11), Haugen mengecam perubahan citra itu dan mendesak Zuckerberg untuk mundur dari kursi CEO. "Saya pikir tidak mungkin perusahaan akan berubah jika (Zuckerberg) tetap menjadi CEO," ujarnya
(wk/Bert)