'Whistleblower' kontroversi Facebook, Frances Haugen, menilai rebranding perusahaan menjadi Meta tidak cukup. Haugen mendesak Mark Zuckerberg sang CEO untuk mundur.
- Elvariza Opita
- Selasa, 02 November 2021 - 14:34 WIB
WowKeren - CEO Facebook Mark Zuckerberg baru saja mengumumkan perubahan nama perusahaannya. Kini perusahaan induk yang turut menaungi Facebook Messenger, Instagram, dan WhatsApp itu berganti nama menjadi Meta, merujuk pada fokus perusahaan di bidang Metaverse.
Upaya penggantian nama ini pun menjadi sorotan banyak pihak lantaran diduga untuk "mengakali" skandal yang tengah menyelubungi perusahaan. Termasuk dari mantan karyawan Facebook, Frances Haugen, yang pertama kali menyuarakan soal isu perusahaan yang lebih memedulikan profit di atas segalanya.
Namun penggantian nama ini ternyata dianggap belum cukup oleh Haugen. Dalam penampilan perdananya di hadapan publik setelah membocorkan dokumen perusahaan terkait kesadaran akan kesehatan mental para pengguna, Haugen mendesak Zuckerberg untuk mundur dari posisinya sebagai bos Meta.
"Saya rasa kecil kemungkinan perusahaan akan berubah bila (Mark Zuckerberg) tetap menjadi CEO," kata Haugen pada Senin (1/11) di malam pembukaan Web Summit di Lisbon, Portugal. Haugen tak menyampaikan secara gamblang "serangannya" dan hanya menyebut perusahaan mungkin akan menjadi lebih kuat dengan kehadiran pemimpin baru.
"Mungkin ini kesempatan untuk orang lain mengambil alih tahta," ungkap Haugen. "Facebook akan menjadi lebih kuat dengan seseorang yang bersedia fokus pada keamanan."
Perihal perubahan nama perusahaan, Haugen sendiri menjadi salah satu yang memberi pendapat miring. Mantan Product Manager perusahaan media sosial tersebut, Haugen menilai rebranding sama sekali tidak masuk akal karena isu keamanan dan kesehatan mental yang belakangan diributkan pun tidak ditangani dengan baik.
"Selalu dan selalu, Facebook memilih ekspansi dan menjajal area baru ketimbang fokus pada apa yang sekarang sudah dikerjakan," imbuh Haugen. Sedangkan sebelumnya Haugen juga sempat menyampaikan bahwa Facebook tetap bisa memicu polarisasi berkepanjangan di kalangan masyarakat apabila tidak mengubah algoritma mereka.
Hal inilah yang membuat Haugen merasa rebranding Facebook menjadi Meta pun tidak akan terlalu mengubah situasi. Pasalnya selama ini Zuckerberg dan sekelompok investor yang mengontrol perusahaan tetap mempertahankan algoritma yang mendorong konten pemecah belah yang ekstrem dan tentu saja kelompok rentan menjadi mangsa utama.
"Masalah utamanya adalah dasar keamanan platform adalah berdasarkan pengawasan terhadap konten per bahasa," jelas Haugen. "Yang tidak mencakup skala semua negara di mana Facebook beroperasi."
(wk/elva)