Kemenkes Ungkap Penyebab COVID-19 Omicron Banyak Ditemui di Afsel, Kelompok Ini Harus Waspada
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Pemerintah Indonesia turut mengantisipasi COVID-19 varian Omicron (B.1.1.529) yang semula ditemukan di Afrika Selatan dan negara-negara tetangga, hingga kini telah menyebar di dunia.

WowKeren - COVID-19 varian Omicron (B.1.1.529) pertama kali dijumpai di negara-negara yang berada di selatan benua Afrika. Kini varian tersebut telah menyebar, menyebabkan beberapa negara ketat menutup perbatasan mereka terutama dari Afrika Selatan dan negara-negara tetangganya.

Salah satu karakteristik penting dari varian Omicron adalah banyaknya mutasi yang bisa ditemui di spike protein-nya. Namun selain itu, menurut Kementerian Kesehatan, varian Omicron ternyata berkembang pesat di Afrika Selatan dan negara sekitarnya karena berkaitan dengan tingginya jumlah pasien HIV/AIDS di sana.

"Kita tahu bahwa dari briefing WHO, kemungkinan besar varian ini muncul dikarenakan kita tahu," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, Senin (29/11). "Afrika Selatan itu sebagian besar adalah orang dengan HIV."

Sebagai informasi, HIV adalah virus yang mampu melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. Sedangkan AIDS adalah penyakit yang ditimbulkan dari perkembangan infeksi HIV. Dengan kata lain, mereka yang terjangkit penyakit ini memang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih rendah daripada orang normal.


Di sisi lain, menurut Siti Nadia, kasus konfirmasi COVID-19 Omicron di Afrika Selatan ditemui di orang dengan HIV/AIDS (ODHA), baik yang sudah divaksin maupun yang belum. "Jadi kasus terjadinya varian baru ini didapatkan pada orang status HIV yang belum mendapat vaksinasi dan yang sudah dapat vaksinasi," paparnya.

Siti Nadia kemudian membandingkan varian Omicron dengan COVID-19 Beta. "Yang kemudian dikatakan menyebabkan memberikan pengaruh penurunan efikasi vaksin," imbuh sang Juru Bicara Vaksinasi dari Kemenkes.

Untuk diketahui, sebelumnya Afrika Selatan juga sudah "menyumbangkan" satu varian COVID-19 yang mengkhawatirkan (Variant of Concern / VoC) yakni varian Beta. Namun kekuatan varian ini masih kalah jauh dibandingkan dengan Delta yang masih mendominasi di berbagai belahan dunia.

Sementara itu, Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, membuka dugaan bahwa COVID-19 varian Omicron sudah masuk ke Indonesia. Namun pakar sekaligus pengembang vaksin dari Inggris juga meyakini COVID-19 Omicron tidak akan menimbulkan gelombang wabah baru, terutama untuk mereka yang sudah tervaksinasi.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts