Kabar Baik, Pakar Inggris Yakin COVID-19 Omicron Tak Picu Gelombang Wabah Baru di Kelompok Tervaksin
Dunia
Pandemi Virus Corona

Andrew Pollard selaku salah satu peneliti Oxford yang bekerja sama mengembangkan vaksin AstraZeneca yakin COVID-19 varian Omicron 'hampir tidak mungkin' memicu gelombang baru.

WowKeren - COVID-19 varian Omicron (B.1.1.529) memicu kekhawatiran para pakar kesehatan dan peneliti. Jumlah mutasi yang begitu tinggi dikhawatirkan menyebabkan virus Corona varian ini mudah menular hingga resisten terhadap vaksin.

Namun pendapat berbeda disampaikan pakar kesehatan Inggris yang juga terlibat dalam pengembangan vaksin COVID-19 dari Universitas Oxford, AstraZeneca. Menurutnya varian Omicron "hampir tidak mungkin" memicu gelombang pasien COVID-19 dengan gejala parah di antara orang-orang yang sudah divaksin.

Andrew Pollard selaku Direktur Grup Vaksin Oxford meyakini bahwa vaksin yang ada sekarang, termasuk yang dikembangkan pihaknya bersama AstraZeneca, bisa secara efektif melindungi penerimanya dari kemungkinan timbulnya gejala parah akibat varian Omicron. Tentu saja bukan tanpa alasan Pollard bisa melempar analisis seperti ini.

Yang pertama, Pollard menyoroti mutasi pada varian Omicron mirip dengan yang dijumpai di varian-varian "kakaknya". Sejauh ini, mutasi-mutasi tersebut belum terbukti bisa memicu keparahan gejala pada pasien yang sudah tervaksin.


"Meskipun mutasi terus terjadi di berbagai varian lain," kata Pollard kepada BBC, dikutip pada Senin (29/11). "Vaksin (yang ada) terus mampu mencegah timbulnya keparahan gejala seiring kita berhadapan dengan varian Alpha, Beta, Gamma, dan Delta."

"Setidaknya berdasarkan perspektif ini, kita optimis bahwa vaksin (yang ada) seharusnya masih bekerja melawan varian baru (Omicron), terutama mencegah terjadinya keparahan gejala. Namun tentu saja kita harus menunggu beberapa pekan ke depan untuk membuktikannya," imbuh Pollard. "(Tapi saat ini) hampir tidak mungkin terjadi gelombang wabah yang parah seperti yang kita lihat tahun lalu, terutama di golongan populasi yang sudah divaksin."

Hal senada juga disampaikan Analis Kesehatan Inggris, Dr John Campbell. Kepada media Jerman Deutsche Welle, Omicron kemungkinan kecil "mengalahkan" vaksin. "Mungkin bisa menurunkan efikasinya, namun sepertinya vaksin akan terus mencegah terjadinya keparahan gejala, perlu masuk rumah sakit, hingga kematian pada sebagian besar kasus," ujar Campbell, Sabtu (27/11).

"Kabar baiknya, pengembang-pengembang vaksin sudah memastikan bahwa mereka bisa menyesuaikan genetik produk mereka sesegera mungkin," lanjut Campbell. "Ini cukup beralasan untuk berasumsi bahwa mereka bisa mendapatkan vaksin yang lebih spesifik untuk varian Omicron dalam jangka waktu 2 bulan."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts