Curhat Warga Alami Erupsi Semeru: Ada Api Hingga Hujan Batu, Tak Berani Lihat Rumah yang Hancur
AFP/Adek Berry
Nasional
Erupsi Semeru

Dengan rumah yang sekarang telah hancur, warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Lumajang, bernama Nyaminten itu berharap agar janji relokasi pemerintah dapat segera terwujud.

WowKeren - Seorang warga membagikan kisahnya mengalami erupsi Gunung Semeru pada Sabtu (4/12) lalu. Wanita bernama Nyaminten tersebut merupakan warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur.

Dusun tempat Nyaminten tinggal merupakan daerah yang paling terdampak guguran awan panas Semeru karena lokasinya yang berada di kaki gunung. Nyaminten mengatakan bahwa rumahnya sudah hancur dan ia tak mau kembali ke sana.

"Saya enggak berani melihat rumah, karena takut trauma," ujar Nyaminten kepada CNN Indonesia pada Jumat (10/12). "Saya sudah enggak punya harapan lagi, rumah saya hancur."

Selain rumah, lahan ladang tempat Nyaminten bertani juga rusak akibat terkubur material vulkanik. Nyaminten masih ingat pada Sabtu sore saat kejadian, ia dikagetkan oleh teriakan para tetanga.

Kala keluar, Nyaminten melihat gulungan awan tebal yang mulai mendekati desanya. Nyaminten juga mengaku melihat api, dan terjadi pula badai hujan batu.


"Ada tetangga teriak-teriak, saya keluar. Ada asap gulung-gulung dan ada api, terus hujan batu," ungkap Nyaminten.

Setelah menyaksikan pemandangan menakutkan tersebut, Nyaminten langsung mengajak suami dan cucunya untuk menyelamatkan diri ke Dusun Kajar Kuning. Di dusun tersebut, Nyaminten berlindung di salah satu rumah warga dan hanya bisa berdoa saat kondisi di sekitarnya berubah gelap gulita.

"Saya lari ke rumah yang agak tinggi. Menjauh, di Kajar Kuning," katanya.

Dengan rumah yang sekarang telah hancur, Nyaminten berharap agar janji relokasi pemerintah dapat segera terwujud. Wanita berusia 65 tahun tersebut berharap pemerintah dapat menyediakan tempat tinggal pengganti. Meski hanya tempat tingal sederhana tak masalah asalkan lokasinya masih di Lumajang.

"Enggak mau kembali ke Curah Kobokan. Saya mohon direlokasi, kalau ada sekitar sini, enggak jauh-jauh," jelasnya. "Dibangunkan rumah kecil-kecilan."

Kala diajak anaknya yang tinggal di Kalimantan untuk pindah ke sana, Nyaminten sendiri menolak dengan alasan tak mau jauh dari tanah leluhurnya. "Anak saya di Pacitan, ada di Kalimantan, dijemput ke Kalimantan saya enggak mau, ya kasihan anak-anak saya di Jawa, keluarga. Sejak lahir saya di sini," paparnya.

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts