Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama hampir 2 tahun ini telah membawa dampak bagi kehidupan. Bahkan hasil studi menyebut pandemi mempengaruhi kesehatan mental.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 14 Desember 2021 - 17:55 WIB
WowKeren - Pandemi COVID-19 yang melanda banyak negara di dunia telah menimbulkan banyak dampak bagi kehidupan masyarakat. Sementara itu, berdasarkan hasil studi baru, mengkonfirmasi bahwa ada konsekuensi lain dari pandemi terhadap anak-anak dan remaja yakni gangguan makan. Bahkan rawat inap mereka juga meningkat tajam di tahun 2020 lalu.
Adapun studi terhadap enam rumah sakit di Kanada menemukan diagnosis baru anoreksia hampir dua kali lipat selama gelombang pertama pandemi COVID-19 terjadi. Kemudian, tingkat rawat inap di antara pasien tersebut disebut juga hampir tiga kali lipat lebih tinggi, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum pandemi.
Lebih lanjut, temuan tersebut, diketahui menambah tiga studi yang lebih kecil dari Amerika Serikat (AS) dan Australia yang semuanya menemukan peningkatan rawat inap gangguan makan selama pandemi. Sementara studi saat ini, hanya berfokus pada anak-anak dengan diagnosis baru anoreksia. Hal ini disampaikan pemimpin peneliti Dr. Holly Agostino yang juga mengarahkan program gangguan makan di Rumah Sakit Anak Montreal.
Agostino menuturkan bahwa anak-anak dan remaja itu mungkin telah berjuang dengan citra tubuh, kecemasan, atau masalah kesehatan mental lainnya sebelum pandemi, kemudian menemukan titik kritis mereka selama itu. "Saya pikir banyak hal yang berkaitan dengan fakta bahwa kami menghilangkan rutinitas harian anak-anak," tutur Agostino dilansir dari UPI, Selasa (14/12).
Lebih lanjut, Agostino menerangkan bahwa dengan segala sesuatu yang terganggu, termasuk makanan, olahraga, pola dan hubungan dengan teman-teman, anak-anak serta remaja yang rentan mungkin telah beralih ke pembatasan makanan. Selain itu, lantaran depresi dan kecemasan sering "tumpang tindih" dengan gangguan makan, maka kondisi kesehatan mental yang memburuk dapat memicu terjadinya anoreksia pada beberapa anak.
Kemudian, kata Agostino, menurut Asosiasi Ganguan Makan Nasional yang berbasis di New York City, pada waktu tertentu, sekitar 0,4 persen wanita muda dan 0,1 persen pria muda disebut mengalami anoreksia. Adapun gangguan makan ini ditandai dengan pembatasan kalori yang parah dan makanan yang akan dimakan seseorang, serta timbul ketakutan yang berlebih akan kenaiakan berat badan.
Kemudian, tim Agostino melihat angka diagnosis anoreksia terhadap anak usia 9 hingga 18 tahun antara Maret - November 2020, ketika pembatasan mulai diberlakukan dengan sebelum pandemi. Ternyata, ada kenaikan kasus dari sekitar 25 menjadi 41 kasus.
(wk/tiar)