Indikator awal menunjukkan bahwa varian tersebut bisa lebih menular. Namun data yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa vaksin masih menawarkan perlindungan terhadap Omicron.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 15 Desember 2021 - 14:10 WIB
WowKeren - Sebuah studi yang dipublikasikan di Afrika Selatan pada Selasa (14/12) menemukan bahwa dua suntikan Vaksin COVID-19 Pfizer mampu memberikan sekitar 70 persen perlindungan terhadap penyakit parah akibat Varian Omicron. Diketahui, Varian Omicron yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan bulan lalu telah menimbulkan kekhawatiran di berbagai belahan dunia.
Indikator awal menunjukkan bahwa varian tersebut bisa lebih menular. Namun data yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa vaksin masih menawarkan perlindungan terhadap Omicron.
"Dosis ganda vaksin Pfizer-BioNTech menunjukkan efektivitas 70 persen dalam mengurangi risiko rawat inap," kata Ryan Noach, kepala perusahaan asuransi kesehatan Discovery yang turut memimpin penelitian tersebut.
Penelitian tersebut didasarkan pada hasil 78.000 tes PCR yang dilakukan di Afrika Selatan antara 15 November dan 7 Desember. Discovery melakukan penelitian ini bersama dengan Dewan Penelitian Medis Afrika Selatan (SAMRC).
"Kami sangat terdorong dengan hasil ini," ujar Kepala SAMRC, Glenda Gray.
Meski demikian, Noach memperingatkan bahwa meskipun perlindungan dapat ditawarkan oleh dua dosis, rumah sakit masih bisa dibanjiri karena Omicron menyebar dengan cepat di Afrika Selatan. Perusahaan Pfizer sendiri mengklaim bahwa vaksin COVID-19 buatannya menawarkan 93 persen perlindungan terhadap varian sebelumnya.
Di sisi lain, Afrika Selatan telah menyetujui suntikan tambahan alias booster Vaksin COVID-19 pekan lalu. Afsel akan memberikan booster untuk warga berusia di atas 18 tahun karena berupaya membendung peningkatan infeksi baru.
Hingga kini, lebih dari 17 juta orang telah divaksinasi di Afrika Selatan, atau sekitar sepertiga dari populasi negara itu. Awalnya, pemerintah Afsel menarget capaian vaksinasi 70 persen pada akhir tahun 2021 ini. Namun target tersebut telah diundur menjadi Maret 2022 mendatang.
Sebelumnya, penelitian Universitas Oxford di Inggris justru menemukan hasil yang berbeda dari studi Afsel ini. Oxford menemukan bahwa penerima dosis penuh Vaksin Pfizer dan juga AstraZeneca tidak memiliki cukup antibodi untuk melawan COVID-19 Omicron.
Peneliti mengumpulkan lebih dari 2 lusin sampel darah relawan yang sudah menerima vaksinasi COVID-19 dosis penuh menggunakan kedua merek tersebut. Darah mereka kemudian "dipertemukan" dengan varian Omicron untuk melihat efektivitasnya, yang kemudian disimpulkan sebagai "adanya penurunan substansial dalam menetralisir varian Omicron".
(wk/Bert)