Alat Tes COVID-19 Rumahan Ternyata Tak Akurat Deteksi Omicron?
Unsplash/Mufid Majnun
Dunia

FDA pada Selasa (28/12) mengungkapkan jika alat tes cepat COVID-19 rumahan lebih cenderung memberikan hasil negatif palsu jika seseorang terinfeksi varian omicron.

WowKeren - Masih terbatasnya informasi mengenai varian COVID-19 omicron membuat kekhawatiran kian meluas. AFP baru-baru ini melaporkan jika alat tes cepat COVID-19 rumahan lebih cenderung memberikan hasil negatif palsu jika seseorang terinfeksi varian omicron.

Hal ini diungkapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada Selasa (28/12). Sebagaimana diketahui, negara itu menghadapi lonjakan besar dalam kasus-kasus yang tidak sepenuhnya dicatat karena tidak dilaporkan.

Sedangkan persediaan perlengkapan tes rumah di AS sangat sedikit. Masalah lainnya juga meliputi waktu tunggu yang lama untuk mengambil tes PCR (polymerase chain reaction) yang lebih akurat.

Sebuah studi saat ini tengah dilakukan untuk mengukur kinerja alat tes rumahan, atau juga dikenal sebagai tes "antigen" terhadap sampel pasien yang mengandung versi langsung dari varian omicron. Menurut data awal yang diperoleh, ditunjukkan bahwa tes antigen memang mampu mendeteksi varian omicron, namun kemungkinan sensitivitasnya telah berkurang.


Seberapa besar kemungkinan tes dapat mendeteksi positif mencerminkan sensitivitasnya. FDA melanjutkan bahwa secara garis besar penurunan kinerja belum terlihat sampai sekarang sehingga mereka akan terus mengizinkan penggunaan tes antigen.

Kendati demikian, tes PCR masih disarankan karena dianggap mampu memberikan hasil yang lebih akurat. Tes antigen bekerja dengan mendeteksi protein permukaan virus corona. jika seseorang dengan gejala atau diduga terpapar COVID-19 menunjukkan hasil tes negatif dengan rapid test, maka disarankan untuk menjalani tes molekuler seperti PCR.

Varian omicron memang telah memicu kekhawatiran di dunia. Bahkan sejumlah negara memutuskan untuk memangkas jeda waktu pemberian vaksin dosis ketiga yang lebih singkat dari 6 bulan.

Korea Selatan, Inggris, dan Thailand telah memangkas jeda pemberian vaksin booster menjadi 3 bulan. Sementara itu, Belgia menurunkannya menjadi 4 bulan sedangkan Amerika Serikat awal tahun ini mengizinkan dosis booster enam bulan. Ada juga negara yang mengurangi jeda booster menjadi lima bulan, seperti Prancis, Singapura, Taiwan, Italia, dan Australia.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait