Ingin Berlaku Adil, Sekolah di Thailand Bakal Kurangi Nilai Murid yang Menangis Saat Ujian
pixabay.com/Ilustrasi/F1Digitals
SerbaSerbi

Langkah itu dilakukan untuk memastikan bahwa ujian bisa berjalan adil sebab ketika ada sejumlah anak yang menangis saat ujian, perhatian anak-anak yang lain jadi terganggu.

WowKeren - Sebuah sekolah di Thailand memiliki kebijakan yang tak biasa untuk muridnya yang mengikuti ujian masuk. Anak-anak yang berusia antara 3 hingga 5 tahun, yang mengikuti ujian masuk ke salah satu prasekolah di Maha Sarakham, provinsi Northeastern akan mendapat pengurangan sebanyak 3 poin jika mereka menangis saat mengerjakan ujian.

Adapun langkah itu dilakukan untuk memastikan bahwa ujian itu bisa berjalan adil, sebagaimana disampaikan oleh direktur sekolah kepada Thai PBS. Pasalnya, ketika ada sejumlah anak yang menangis saat ujian, perhatian anak-anak yang lain jadi terganggu.

Pada dasarnya, sekolah tersebut sudah menerapkan kebijakan itu selama bertahun-tahun. Namun karena adanya protes, maka pihak sekolah melakukan revisi.

Sementara itu, sekolah-sekolah di Thailand memang terkenal memiliki aturan yang ketat, yang mana kebijakan ini juga banyak menuai kritik. Misalnya saja pada tahun 2020 lalu, ketika ratusan siswa Thailand menolak kebijakan terkait seragam dengan tidak memakainya saat semester baru dimulai. Mereka pun mendapat hukuman dari guru yang memisahkan mereka dari teman sekelas mereka, atau mengirim mereka ke konseling.


Kebijakan terkait seragam ini telah menjadi sorotan. Sebuah kelompok aktivis siswa bernama Bad Student membuat situs web dengan daftar sekolah dan guru yang melarang siswa memboikot seragam.

Sejumlah orang tua mendukung langkah murid yang memboikot seragam sekolah. Bahkan, ada seorang ibu yang mengajukan keluhan terhadap Sekolah Horwang di Bangkok karena tidak memperbolehkan putranya masuk ke kelas ketika dia tidak mengenakan seragamnya.

Tak hanya soal seragam, namun juga metode pengajaran. Sekolah-sekolah Thailand juga tak jarang dikritik karena mengajar siswa melalui hafalan dan ceramah. Hingga pada tahun 2020, pejabat Thailand membahas cara mempromosikan pembelajaran di luar kelas.

Menteri Pendidikan Nataphol Teepsuwan meminta kabinetnya menyetujui pedoman pembelajaran yang baru. Di bawah pedoman baru, siswa di sekolah negeri akan menghabiskan separuh waktu mereka untuk belajar di kelas dan separuh waktu sisanya melakukan kegiatan di luar kelas.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait