Sebelumnya, beredar kabar bahwa akan ada kenaikan harga BBM serta tarif listrik. Namun kini Menkeu Sri Mulyani hadir menyampaikan kabar baik untuk masyarakat Indonesia.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 22 Maret 2022 - 14:56 WIB
WowKeren - Bahan pokok di Indonesia belakangan ini mengalami kenaikan harga yang terbilang signifikan. Bahkan sebelumnya juga beredar kabar akan terjadi kenaikan juga terhadap BBM hingga tarif listrik.
Namun kini Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati datang menyampaikan kabar baik bagi masyarakat Indonesia. Sri Mulyani menyatakan bahwa pemerintah masih mempertahankan tarif bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite hingga tarif listrik belum ada kenaikan, meskipun harga komoditas energi tengah meningkat.
"Kemudian fuel price, harga BBM kita enggak naik. Pertamax sudah terkena karena itu kelompok masyarakat kaya yang konsumsi, tapi Pertalite tidak diubah, Premium sudah hilang sekarang," ujar Sri Mulyani dalam Indonesia Economic Outlook, Selasa (22/3).
Lebih lanjut, Sri Mulyani menerangkan alasan pemerintah belum juga menaikkan tarif listrik dan BBM Pertalite meski ada peningkatan harga komoditas energi adalah dikarenakan untuk menghindari terjadinya market shock, sekaligus mempertimbangkan daya beli masyarakat.
Menurut Sri Mulyani, pemerintah khawatir jika terjadi kenaikan harga akan berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi. "Market shock kalau komoditas untuk oil dan gas dan listrik itu adalah administer price," ungkapnya.
Maka, kata Sri Mulyani, pilihannya adalah kalau mengalami shock dari kenaikan bahan bakunya itu diteruskan ke masyarakat, maka naiknya tinggi langsung jeblok konsumsinya. Maka dari itu, diputuskan sampai saat ini, listrik tidak jadi naik.
Kendati demikian, Sri Mulyani tidak menapik bahwa saat ini kondisi ekonomi di dunia terus menerus dihadapkan dengan tantangan-tantangan. Meski pandemi COVID-19 berangsur membaik dan sekarang cukup terkendali, namun muncul konflik Rusia-Ukraina, yang disebut berdampak pada kenaikan harga-harga komoditas, misalnya batu bara, nikel, minyak hingga gas bumi.
"Kenaikan harga komoditas sebetulnya sudah mulai muncul karena pemulihan ekonomi mengalami disrupsi dari sisi supply-nya. Jadi ini, kayak kena badai semua dan pada saat ekonomi sedang tertatih-tatih dari pandemi sehingga belum kuat untuk bangkit," jelas Sri Mulyani.
Di samping itu, Sri Mulyani menuturkan bahwa atas dasar melonjaknya harga komoditas itulah yang membuat pemerintah masih mempertimbangkan harga-harga, khususnya minyak dan kelistrikan.
Jadi, Sri Mulyani menambahkan bahwa APBN sekarang menghitung berapa penerimaan bertambah dari komoditas, berapa belanja akan ditagihkan. "Kalau ini belum di-past over dan nanti struktur APBN-nya tetap akan sehat enggak," tandas Sri Mulyani.
(wk/tiar)