Aksi Klitih di Yogyakarta Makin Mengkhawatirkan, Ridwan Kamil Ikut Beri Saran
https://humas.jabarprov.go.id/
Nasional
Kasus Klitih Jogja

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil ikut memberikan masukan pada Pemda Yogyakarta terkait aksi klitih yang meresahkan. Hal itu berdasar pengalamannya tangani geng motor di Bandung.

WowKeren - Aksi kejahatan jalanan Klitih yang terjadi di Yogyakarta tengah ramai jadi pembahasan. Publik Tanah Air pun turut dibuak khawatir dengan aksi kejahatan tersebut. Termasuk Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil ikut memberikan saran terkait penanganan klitih yang sedang marak di Yogyakarta. Terkait kejadian tersebut, Ridwan Kamil di sela kunjungannya ke kediaman Butet Kartaredjasa memberi masukan Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta agar merangkul pimpinan pelaku kejahatan jalanan atau klitih.

Ridwan Kamil turut mengungkap jika dulu di Bandung juga kerap terjadi aksi kejahatan jalanan, terutama geng motor. Namun belakangan ini aksi geng motor sangat berkurang. Menurut Ridwan Kamil, para pelaku aksi kekerasan tersebut harus dirangkul.

"Dulu Bandung terkenal geng motornya, namun relatif lebih rendah dibandingkan sini. Penanganannya adalah merangkul mereka," ujar Ridwan Kamil di kediaman seniman Butet Kertaradjasa, di Bantul.

RIdwan menyarakan agar pimpinan dari pelaku kejahatan jalanan untuk dirangkul. Kemudian dimasukkan dalam organisasi formal untuk berkegiatan dan mendapatkan pelatihan tentang wawasan kebangsaan, ketertiban dan lain-lain.



"Penanganan tidak di taraf edukasi atau himbauan. Harus didukung pembuatan program perekrutan semua pelaku untuk kemudian dilatih oleh institusi negara. Sehingga ketika selesai pemikirannya bisa lebih baik. Mungkin bisa menjadi masukkan," lanjutnya.

RIdwan Kamil menilai bahwa pada dasarnya orang Indonesia hanya butuh dirangkul. Ibarat bola bekel, dipukul keras maka malah akan memantul keras.

"Intinya cuma satu sebenarnya, sibukkan para pemuda itu dengan kegiatan-kegiatan positif agar mereka tidak berbuat yang macam-macam," ucap Ridwan Kamil.

Sementara itu, Butet Kartaredjasa menilai bahwa maraknya fenomena klitih ialah wujud kompensasi anak-anak muda remaja mencari perhatian secara gampang dan primitif. Cara yang paling mudah yaitu dengan membacok serta tindakan anarkis lainnya.

"Saya pikir infrastruktur tempat bertumbuhnya komunitas seni yang difasilitasi pemerintah melalui danais ini harus diperbanyak kegiatannya dan supportingnya karena ini merupakan kompensasi anak-anak muda, remaja mencari perhatian secara gampang dan secara primitif itu dengan membacok orang, melakukan tindakan anarki," beber Butet.

"Tapi kalau orang sudah bersentuhan dengan jalan kebudayaan, saya yakin asalkan ada infrastruktur untuk itu. Itu saja yang diperkuat dan saya rasa Jogja sudah menjadi satu ranah kebudayaan yang sudah diuji oleh sejarah, mampu menumbuhkan anak anak muda kayak saya ini, sejak remaja sudah berkesenian, menyelamatkan hidup saya juga lewat berkesenian," pungkasnya.

(wk/amel)


You can share this post!


Related Posts