Sebuah penelitian menunjukkan bahwa usia anak-anak yang menggunakan smartphone di Jepang kini semakin awal dari seharusnya. Hal itu pun tampaknya menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
- Amelia Nur Fatimah
- Kamis, 14 April 2022 - 10:50 WIB
WowKeren - Anak-anak Jepang mulai aktif lebih awal dari biasanya. Pernyataan itu menurut sebuah survei yang dilakukan untuk memastikan kapan anak-anak pertama kali mulai menggunakan smartphone.
Mobile Society Research Institute, cabang dari operator seluler terkemuka NTT Docomo Inc., mengatakan sebuah penelitian yang dilakukan November lalu menemukan bahwa anak-anak rata-rata berusia 10,63 tahun ketika mereka pertama kali mengoperasikan smartphone. Turun 0,71 tahun dari dua tahun sebelumnya.
Lembaga ini memusatkan perhatian pada siswa SD dan SMP serta orangtua mereka di Tokyo dan enam prefektur di wilayah Kanto. Penelitian itu pun menerima 500 tanggapan yang valid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak rata-rata diberikan smartphone pertama kali saat mereka berusia 10,63 tahun. Di mana dalam survei sebelumnya pada 2019 usia rata-rata adalah 11,34 tahun.
Berdasarkan jenis kelamin, anak perempuan dan laki-laki menjadi pemilik smartphone pada usia 10,47 dan 10,83 tahun. Sebagian besar dari mereka mulai membawa perangkat mereka ke sekolah pada usia 12, sekitar waktu mereka memasuki sekolah menengah pertama, terhitung 33,2 persen dari total.
Ponsel mudah digunakan yang berorientasi pada anak-anak. Menampilkan alarm pribadi, pemberitahuan lokasi, dan fungsi bermanfaat lainnya diperkenalkan kepada pengguna muda ketika mereka rata-rata berusia 8,09 tahun. Setahun lebih muda dari angka studi tahun 2019 pada 9,11.
Meskipun anak perempuan cenderung mulai mengandalkan perangkat semacam itu pada awal tahun 2019, tidak ada perbedaan signifikan yang dilaporkan antara jenis kelamin pada tahun 2021. Sebagian besar dari mereka mendapatkan smartphone anak-anak yang mudah digunakan pada usia 6 dan 7 tahun setelah mereka terdaftar di sekolah dasar.
Tahun lalu, kementerian telekomunikasi mengatakan survei yang dilakukan pada tahun fiskal 2020 menemukan bahwa 98,8 persen siswa sekolah menengah memiliki smartphone. Dikatakan pengguna yang menghabiskan enam jam atau lebih di smartphone mereka pada hari libur berjumlah 28,0 persen.
Sementara itu, kementerian kini telah mendesak orang tua untuk mengontrol jumlah jam yang dihabiskan anak-anak mereka di smartphone serta memasang fungsi penyaringan.
(wk/amel)