Kru penyelamat terus bekerja untuk menggali bangunan yang hancur untuk mencari korban. Pejabat lokal menggambarkan bencana itu sebagai salah satu badai terburuk.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 14 April 2022 - 10:33 WIB
WowKeren - Banjir dan tanah longsor yang melanda provinsi KwaZulu-Natal Afrika Selatan telah menewaskan lebih dari 250 orang, sebagaimana dikatakan oleh pemerintah setempat pada Rabu (13/4). Hujan pada dasarnya sudah berhenti pada Selasa di sepanjang pantai timur negara itu, namun jumlah korban tewas terus bertambah.
Kru penyelamat terus bekerja untuk menggali bangunan yang hancur, jalan raya dan jembatan yang rusak untuk mencari korban, sebagaimana dilaporkan The New York Times. BBC News mengutip pejabat lokal yang menggambarkan bencana itu sebagai salah satu badai terburuk dalam sejarah negara itu.
Departemen Tata Kelola Koperasi dan Urusan Tradisional (COGTA) provinsi itu pada hari Selasa mengatakan tim penanggulangan bencana sedang mengevakuasi orang-orang di daerah-daerah di mana tanah longsor terjadi dan di mana bangunan-bangunan runtuh. Banjir yang terjadi menyebabkan puluhan rumah hanyut dan beberapa jalan ambruk.
Chief Executive Officer Andre de Ruyter mengatakan jika Hujan di KwaZulu-Natal juga membanjiri bendungan yang melebihi kapasitas. Alhasil hal itu tidak memungkinkan untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air di utilitas listrik Eskom.
Walikota Durban Mxolisi Kaunda mengatakan kepada BBC bahwa instalasi listrik dan pengolahan air tergenang. Outlet tersebut juga melaporkan bahwa sekitar 900 menara ponsel runtuh, sehingga hal itu menimbulkan gangguan pada jalur komunikasi.
Badai besar semacam ini bukanlah yang pertama kali terjadi di negara itu. Sebelumnya, sudah pernah ada badai serupa tahun 2017 dan 2019. Namun, penduduk sekitar mengatakan jika badai dan banjir kali ini lebih banyak menimbulkan kerusakan dibanding dua peristiwa sebelumnya.
Para pemimpin berjanji untuk meningkatkan infrastruktur kawasan itu untuk menangani cuaca seperti itu dengan lebih baik. "Ketika infrastruktur gagal, itu mengarah pada bencana manusia," kata Sbu Zikode, presiden Abahlali baseMjondolo, sebuah kelompok advokasi untuk penghuni gubuk, kepada Times.
Menurutnya, bencana banjir yang terjadi juga berkaitan dengan sikap pemerintah. "Banjir menunjukkan kurangnya kemauan politik pemerintah untuk tidak hanya berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur, tetapi juga untuk memelihara infrastruktur yang kita miliki," paparnya.
(wk/zodi)