Pemimpin mahasiswa memanjat pagar kompleks Rajapaksa di Kolombo. Polisi mendirikan barikade di jalanan ibu kota untuk menghentikan mereka terhubung dengan demonstran tempat lain.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 25 April 2022 - 09:41 WIB
WowKeren - Krisis ekonomi yang terjadi di Sri Lanka masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera membaik. Bahkan ribuan mahasiswa mengerumuni rumah Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa pada Minggu (24/4). Mereka menuntut pengunduran diri Mahinda.
AFP melaporkan jika para pemimpin mahasiswa memanjat pagar kompleks Rajapaksa di Kolombo setelah polisi mendirikan barikade di berbagai jalan di sekitar ibu kota untuk menghentikan mereka terhubung dengan demonstran di tempat lain. Seorang pemimpin mahasiswa berdiri di atas tembok berkata, "Anda dapat memblokir jalan, tetapi tidak dapat menghentikan perjuangan kami sampai seluruh pemerintah mundur."
Sri Lanka telah menghadapi pemadaman listrik selama berbulan-bulan, rekor inflasi dan kekurangan pangan dan bahan bakar yang akut. Kondisi ini memicu meningkatnya ketidakpuasan publik di Sri Lanka, yang menghadapi penurunan ekonomi terburuk sejak kemerdekaan pada tahun 1948.
Menghadapi barisan polisi yang memegang perisai anti huru hara, pengunjuk rasa mencoba menurunkan barikade yang mencegah mereka memasuki kediaman. Polisi mengatakan Mahinda Rajapaksa, kepala klan penguasa Sri Lanka, tidak berada di lokasi pada saat itu dan massa pergi dengan damai.
Setiap hari, ribuan pengunjuk rasa telah berkemah di luar kantor tepi laut Presiden Gotabaya Rajapaksa selama dua minggu. Mereka menuntut dia dan saudaranya untuk mundur. Dalam demonstrasi nasional banyak orang berusaha menyerbu rumah dan kantor tokoh pemerintah.
Aksi protes ini juga tak luput dari memakan korban. Pekan ini seorang pria ditembak mati ketika polisi menembaki blokade jalan di pusat kota Rambukkana. Ini menjadi kematian pertama sejak protes pecah bulan lalu.
Kondisi perekonomian Sri Lanka memburuk setelah pandemi virus corona melumpuhkan pendapatan vital dari pariwisata dan pengiriman uang. Negara ini tidak mampu membiayai impor penting. Alhasil, hal itu membuat membuat pasokan beras, susu bubuk, gula, tepung terigu, dan obat-obatan menjadi terbatas. Sementara itu di lain sisi, ada inflasi yang tak terkendali juga telah memperburuk kondisi ekonomi di negara itu.
(wk/zodi)