Semakin Merebak, PMK Ditemukan di Lombok Picu Kekhawatiran Timbul Gejolak Sosial
Unsplash/Amber Kipp
Nasional
Wabah Penyakit Mulut dan Kuku

Setelah ditemukan di Jateng, wabah PMK hewan yang pertama kali terdeteksi di Jatim itu kini merebak ke Lombok Timur, NTB. Hal ini lantas dikhawatirkan memicu menimbulkan gejolak sosial.

WowKeren - Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang pertama kali ditemukan di empat wilayah Jawa Timur, tampaknya kini mulai semakin merebak luas di beberapa wilayah Indonesia lainnya. Terbaru, PMK ditemukan di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebanyak 234 hewan ternak di Lombok Timur, NTB telah terkonfirmasi PMK. Atas hal ini, pemerintah kabupaten setempat khawatir PMK menimbulkan gejolak sosial.

"Data terakhir di Lombok Timur, terdapat 243 ternak yang telah terkonfirmasi terserang PMK," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur, Ir Mahsyur, dilihat dari Antara, Sabtu (14/5).

Adapun ratusan sapi yang terpapar PMK itu tersebar di Kecamatan Aikmel, akan tetapi 92 ekor di antaranya telah sembuh. Lalu di Kecamatan Suela ada 26 ekor sembuh dan 10 ekor masih dirawat.

Selanjutnya di Labuhan Haji ada 6 ekor, Kecamatan Montong Gading 2 ekor sembuh, Wanasaba 43 ekor sembuh dan 8 ekor masih dirawat, serta Kecamatan Selong satu ekor. "Di Pringgabaya 2 ekor, Potong Paksa 1 ekor, sudah banyak yang sembuh," ungkap Mahsyur.



Sebagaimana diketahui, PMK merupakan penyakit hewan yang bersifat akut dan memiliki angka kesakitan mencapai 90-100 persen pada hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan babi. Sementara untuk penyebarannya pun sangat cepat, namun tidak bersifat zoonosis atau tidak menular dan aman pada manusia.

Mahsyur lantas menerangkan bahwa pihaknya sudah melakukan beberapa langkah preventif jauh hari sebelum adanya kasus baru dengan menggerakkan seluruh dokter hewan yang ada di Lombok Timur.

Sementara itu, pemerintah Kabupaten Lombok Timur diketahui akan menutup pasar hewan pada Senin (16/5), selama tiga pekan. Selain itu, juga menutup setiap kandang peternakan untuk sementara waktu, mengingat langkah ini merupakan satu-satunya cara memutus rantai penyebaran saat ini, di samping mengupayakan vaksin untuk ternak.

Terkait dengan peredaran ternak di kabupaten, Mahsyur mengungkapkan merupakan wewenang Provinsi NTB, dengan demikian diharapkan wabah PMK bisa menjadi pembelajaran berharga.

Mahsyur lantas mengimbau peternak agar tidak panik serta bersabar. Pasalnya, adanya wabah PMK itu peternak diminta tidak menjual ternaknya dengan harga rendah, terlebih potensi kesembuhan dari penyakit tersebut di Lombok Timur, tergolong tinggi.

(wk/tiar)


You can share this post!


Related Posts