Demo Tolak Kenaikan Harga BBM di Jakarta Diwarnai Kericuhan, Massa Bakar Ban-Jebol Pagar Kawat
Twitter/SonoraFM92
Nasional
Harga BBM Naik

Ketua Umum PB PMII Abdullah Syukri sempat mengungkapkan sejumlah poin tuntutan dalam aksi demo tersebut. Menurutnya, ada empat tuntutan yang disuarakan dalam aksi demo sore ini.

WowKeren - Kelompok Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menggelar aksi demonstrasi di Jakarta untuk memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Senin (5/9). Namun aksi demo yang awalnya berjalan tertib mulai ricuh usai massa berusaha menjebol kawat berduri yang dipasang polisi untuk menyekat aksi menuju Istana Negara.

Massa PB PMII terpantau tiba di kawasan Patung Kuda, Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat sekitar pukul 15.10 WIB. Massa kemudian tampak membakar ban sambil berorasi sekitar pukul 16.20 WIB.

Massa meneriakkan penolakan terhadap kenaikan harga BBM. "Tolak, tolak, tolak BBM naik sekarang juga," ujar sang orator dari atas mobil komando.

Tak hanya membakar ban, massa juga berupaya menerbos pagar kawat berduri di Jalan Medan Merdeka Barat. Mereka juga melempari botol dan sejumlah barang ke arah aparat.

"Buka, buka, buka kawatnya!" teriak massa.


Di sisi lain, Ketua Umum PB PMII Abdullah Syukri sempat mengungkapkan sejumlah poin tuntutan dalam aksi demo tersebut. Menurutnya, ada empat tuntutan yang disuarakan dalam aksi demo sore ini.

Yang pertama, PB PMII menegaskan penolakan terhadap kenaikan harga BBM. "Kami Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bersikap menolak secara tegas kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi," ujar Syukri.

Kemudian yang kedua, PB PMII mendesak pemerintah untuk serius dan sungguh-sungguh memberantas mafia BBM. Sedangkan yang ketiga, mereka mendesak pemerintah untuk segera menerapkan kebijakan subsidi tepat sasaran.

"Keempat, mendorong pemerintah untuk membuka keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan penyaluran BBM bersubsidi," tukasnya.

Di sisi lain, keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM mulai Sabtu (3/9) pekan lalu dikritik oleh ekonom. Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara menilai bahwa langkah pemerintah itu dinilai tidak tepat waktu.

Menurut Bhima, masyarakat tentu saja belum siap dalam menghadapi kenaikan harga Pertalite menjadi Rp10 ribu. Ia menuturkan bahwa hal ini bisa berdampak kepada Indonesia terancam mengalami stagflasi yaitu naiknya inflasi yang signifikan tidak dibarengi dengan kesempatan kerja.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts