Ritual yang dilakukan Jokowi saat menerima gelar adat menuai berbagai reaksi di masyarakat.
- Senin, 29 Juni 2026 - 19:02 WIB
WowKeren - Dalam rangkaian safari kerakyatan yang dilakukan Presiden Ketujuh RI, Ir. H. Joko Widodo atau Jokowi, selama tiga hari di Lampung, terdapat momen mencolok yang mendapatkan perhatian publik. Momen tersebut terjadi pada Sabtu (27/6) saat Jokowi menjalani ritual penerimaan gelar kehormatan adat dari Kedatong Keagungan Bandar Lampung. Dalam prosesi tersebut, Jokowi melakukan ritual 'menginjak kepala kerbau', sebuah tradisi yang sarat akan makna dan simbolisme.
Dalam prosesi pemberian gelar adat tersebut, terlihat Jokowi mengenakan busana adat dan duduk di kursi dengan kaki kanan menginjak kepala kerbau yang diletakkan di depannya. Momen ini tidak luput dari sorotan dan reaksi beragam dari berbagai pihak. Beberapa tokoh dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberikan interpretasi berbeda terhadap ritual ini. Guntur Romli, salah satu tokoh PDIP, menafsirkan bahwa peristiwa tersebut mencerminkan ambisi kekuasaan yang masih kuat dalam diri Jokowi.
Ketua DPP PDIP, Andreas Hugo Parera, juga mengungkapkan pendapatnya mengenai momen tersebut. Ia menilai bahwa tidak pantas bagi seorang mantan presiden yang seharusnya menjadi simbol pemersatu bangsa untuk datang ke suatu daerah dan dinobatkan sebagai raja. Andreas menambahkan bahwa tindakan tersebut menunjukkan Jokowi 'turun kelas' karena terlibat dalam politik di tingkat lokal.
Namun, ada sisi lain dari ritual 'Injak Kepala Kerbau' yang perlu dipahami. Ritual ini memiliki makna yang dalam dalam tradisi adat masyarakat Lampung. Menurut tokoh adat Lampung, Mawardi Harirama, ritual menginjak kepala kerbau adalah simbol penyucian diri dan penghormatan kepada leluhur. Ritual ini bukanlah sebuah penghinaan, melainkan sebuah prosesi yang sarat makna moral bagi penerima gelar, menandai transisi menuju status sosial yang lebih tinggi dalam tatanan adat.
Dalam tradisi pemberian gelar adat, ritual ini menegaskan pentingnya nilai-nilai moral dan penghormatan terhadap budaya lokal. Dengan demikian, tindakan Jokowi dalam ritual tersebut seharusnya tidak hanya dipandang dari sudut pandang politik, tetapi juga dari perspektif budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Masyarakat diharapkan dapat memahami konteks dan makna dari ritual tersebut, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.
Sebagai bagian dari budaya Lampung, ritual ini mengingatkan kita akan pentingnya menghormati tradisi dan memahami simbol-simbol yang ada di dalamnya. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam menanggapi setiap peristiwa yang berkaitan dengan budaya dan adat istiadat yang ada.
(wk/timw)