Berikut kebiasaan-kebiasaan yang bisa membuat senyummu merekah setiap saat.
- Tim WowKeren
- Jumat, 11 November 2016 - 16:37 WIB
WowKeren - Pernah membaca meme "Jangan Lupa Bahagia" yang bersebaran di media sosial? Atau ada temanmu yang ngebroadcast lewat pesan? Kata-kata itu semacam pengingat bahwa kamu atau siapapun diusahakan bahagia. Namun mengapa hal sesederhana bahagia saja sampai bisa dilupakan.
Psikolog senior, Martin Seligman berteori bahwa 60 persen kebahagiaan ditentukan oleh genetika dan lingkungan. 40 persen sisanya adalah bagaimana kita memilih untuk menanggapinya. Martin Seligman telah meneliti hal-hal berkaitan dengan seni dan ilmu kebahagiaan. Berikut 10 hal yang telah diringkas oleh Seligman tentang kebiasaan yang bisa menyebabkan kebahagiaan:
Menikmati Setiap Momen
Bahagia itu nggak sesulit yang dikira kok. Hingga di Instagram, Twitter dan Path muncul tanda pagar #bahagiaitusederhana. Banyak orang-orang meninggikan kebahagiaan itu sendiri. Sejak kapan sih bahagia itu susah? Beberapa orang berlebihan, mengunggah tagar itu dan yang sedang galau me-repostnya. Jadilah hal itu viral di media sosial.
Bahagia itu nggak sulit-sulit banget kok. Kamu hanya perlu perhatian dengan apa dilakukan sekarang. Misalnya mendapat bunga dari pengagum rahasia. Jangan langsung jutek, nikmati saja bunga itu dan cium harumnya. Syukur-syukur suka, kalau nggak ya bisa dikasih ke kubikel sebelah.
Bahagia itu bisa tercipta ketika kamu menerima hal apapun dalam hidupmu saat ini. Ketika menikmati momen baik atau buruk, kamu lebih menyadari apa yang terjadi di sekitarmu. Orang yang paling bahagia biasanya fokus pada apa yang dapat dikontrol dan itu berkaitan dengan kebahagiaan di saat ini. Nggak peduli perjuangan yang bakal kamu lalui asal bahagia apapun akan dijalani.

Pemikiran Terbuka
Dalam buku Mindset, seorang penulis bernama Carol Dweck menjelaskan kesuksesan dan orang yang bahagia memiliki pemikiran yang terbuka dibanding yang statis. Orang yang berpikir statis menganggap kesuksesan sebagai hasil dari kecerdasan. Sedang orang yang berpikiran terbuka melihat tantangan dan kegagalan adalah hal yang lumrah. Kondisi itu adalah tahap yang harus dilewati agar berkembang ke tingkat yang lebih tinggi.
Setelah meneliti selama 20 tahun, Dweck menyimpulkan bahwa orang-orang yang pemikirannya berkembang lebih bahagia. Karena selalu siap dengan halangan dan jauh lebih gigih melalui rintangan. Orang yang berpikir stabil susah menyesuaikan diri. Biasanya mereka suka terjebak di kenyamanan.
Tengok saja orang-orang yang nggak suka dengan perubahan saat ini dimana hal berkembang sangat cepat. Bila masih menggunakan cara lama, tentu saja kalah dan tergerus teknologi. Misalnya Agus seorang seniman poster film dengan menggunakan cat yang saat ini bisa dikatakan nggak dibutuhkan lagi. Bila dia masih saja berkutat di bidang itu dan nggak berkembang tentu saja kekreativitasan dia membeku. Hal itu bisa dihalau bila mencoba apa yang sedang disukai. Masih dengan media cat, Agus bisa mencoba berkarya membuat lukisan, dodlle atau gambar temporari.

Dikelilingi Orang yang Berbahagia
Jim Rohn pernah berkata bahwa kamu adalah rata-rata dari lima orang yang sedang berada di sekitarmu. Penulis dan psikolog ini ingin menunjukkan bahwa lingkungan berperan besar dengan kebahagiaanmu. Yang mengelilingi diri kita memiliki dampak besar pada bagaimana berpikir, merasa dan maksud arahan dalam hidup.
Ini mungkin terdengar kasar tapi menghilangkan orang-orang negatif dalam hidup sangat diperlukan jika kamu ingin menjadi lebih bahagia. Kamu nggak akan harus menghadapi mereka secara pribadi tentang hal ini. Menghindari mereka bisa berarti menghabiskan lebih sedikit waktu secara bertahap sehingga kamu dapat fokus pada memperbaiki diri.
Contoh kecilnya berteman dengan orang yang positif di media sosial dan hindari yang provokatif. Hidupmu akan lebih indah, bahagia dan nggak membombardir.

Punya Mimpi
Bila nggak punya tujuan di masa depan, kamu hanya akan memikirkan masa kini dan berhenti. Bisa-bisa malah memikirkan hal lainnya misalnya masa lalu. Nggak ada kebaikan yang bisa kamu dapat bila hanya berkecimpung dengan masa lalu. Yang ada kamu hanya merasa bersalah dan menyesal. Bila ada masa depan yang ingin disongsong, arah pikiran kamu akan ada tujuannya.
Apakah mimpimu berkisar perjalanan menjelajahi dunia, memulai bisnis sendiri atau belajar bahasa baru? Memiliki mimpi adalah salah satu hal yang paling penting dalam sisa optimis ketika keadaan menjadi sulit. Memiliki mimpi bisa juga membuat kamu tahu apa yang harus dituju selanjutnya.
Konsep ini memiliki tujuan sangat lazim di Asia Timur. Di Jepang, ada istilah "ikigai" yang berarti "alasan kamu bangun di pagi hari." Inilah yang menjadi alasan yang ditemukan oleh peneliti pada beberapa orang yang bahagia.

Menunggu
Semakin besar mimpi yang dipunya maka kamu akan membutuhkan kesabaran yang sangat lebar. Sebab mimpi juga membutuhkan usaha. Hal itu berkaitan dengan besar mimpimu. Usaha untuk berjuang akan menghasilkan sesuai yang kamu inginkan.
Orang yang bahagia akan memiliki kesabaran untuk menunggu dan fokus pada apa yang akan dicapai. Sejauh jalan, berat halang rintang dan usaha yang dikeluarkan nggak akan menjadi alasan berhenti. Mereka memahami hal terbaik akan menghampiri orang yang sabar dan bertahan dalam waktu yang lama. Entah berhubungan dengan promosi pekerjaan, hubungan dengan orang lain maupun kemampuan baru yang sedang kamu tekuni.

Ada Jadwal untuk Sendirian
Berkata "ya" untuk semua hal agar segalanya berjalan lancar hanya membuat kamu semakin sengsara. Memberikan perhatian pada orang lain adalah penting. Namun kalau hal itu sudah menginjak-injak waktumu untuk beristirahat makan akan menjadi masalah.
Kamu nggak selamanya harus menyetujui apapun pendapat orang lain. Bila terus memiliki pendapat yang sama, banyak orang akan mengambil keuntungan darimu. Misalnya kamu yang mudah membantu orang lain akan menjadi sasaran utama bila ada yang membutuhkan usaha. Hal itu memang nggak masalah asal nggak mengganggu aktivitasmu.
Jangan sampai kebaikanmu menjadi mimpi burukmu sendiri. Kamu harus memiliki batasan untuk beristirahat dan menyenangkan diri sendiri. Dengan adanya batas-batasan itu kamu tahu kapan dan bagaimana porsimu dibutuhkan.

Simpan Uang Untuk Pengalaman Berharga
Pengalaman cenderung membuat kamu bahagia karena dua alasan utama. Pertama, pengalaman yang berharga meninggalkan kenangan dari waktu ke waktu ketika kamu mengenangnya. Kedua, pengalaman kadang membuat kamu keluar dari rumah dan berinteraksi dengan orang yang kamu kasihi.
Mobil yang kamu kendarai nilainya akan berkurang sejalan dengan lama waktu penggunaan. Sedang kenangan akan selalu ada di kepalamu. Bersarang di sana hingga sisa waktumu berakhir.
Oleh karena itu, orang yang bahagia lebih memilih menghabiskan uang untuk melakukan perjalanan. Mereka malah akan berpikir ulang bila akan menjajahkan untuk membeli TV layar datar yang jarang digunakan.

Memberi Lebih Banyak daripada Menerima
Untuk beberapa orang, melihat siapapun bahagia dapat menularkan rasa itu padanya. Misalnya ada yang membutuhkan makan, kamu datang memberikan sekotak nasi kuning. Tanpa sadar kamu ikut bahagia ketika orang yang kamu beri makanan tersenyum.
Orang yang bahagia biasanya memiliki banyak hal yang melimpah. Dalam hidupnya lebih banyak kesempatan yang didapat, uang dimiliki dan cinta untuk dibagi. Mereka akan memberi sebisa mungkin.
Mungkin terdengar ironi namun orang bahagia akan memahami yang membutuhkan. Membantu orang yang membutuhkan akan menularkan kebahagiaan hingga akhir.

Menerima Ketidaknyamanan
Menurut psikolog Peter Kramer, bertahan berbanding terbalik dengan depresi. Nggak semua orang yang bisa bertahan akan menderita. Orang yang bahagia tahu bagaimana bangkit dari kegagalan.
Bertahan adalah cara untuk bersikap ketika kesulitan datang tak terelakkan. Kesulitan itu mesti harus dihadapi. Seperti kata pepatah Jepang, "Jatuh tujuh kali dan berdiri delapan kali."
Perjuangan adalah bukti kemajuan dan orang-orang yang bahagia hidup dengan ini. Mengapa? Imbalan yang diterima untuk menjadi lebih hebat jauh lebih besar daripada rasa sakit yang diterima ketika dalam fase bertahan.

Selalu Belajar
Kamu mungkin bisa meniru Stephen Hawking. Ilmuwan yang di bidang matematika itu menderita kelumpuhan akibat sklerosis lateral amiotrofik (ALS). Namun hal itu nggak menghentikan langkahnya. Hawking terus berjuang melawan penyakitnya dan melanjutkan kariernya sebagai ilmuwan dan melahirkan lebih banyak karya.
Asosiasi ALS menyatakan bahwa orang yang terdiagnosa mengidap penyakit ini, 50 persen hanya mampu bertahan hingga empat tahun, dan hanya 10 persen yang mampu hidup lebih dari 10 tahun. Faktanya, Hawking mampu bertahan selama lebih dari 50 tahun dengan ALS hingga usianya yang menginjak 74 tahun. Bagaimana bisa?
Seperti Hawking, orang yang paling bahagia memiliki satu kesamaan. Mereka adalah pembelajar seumur hidup, terus membaca buku-buku baru, menjelajahi budaya lain, belajar bahasa baru dan lain-lain. Ini adalah proses yang berkelanjutan karena tanpa pertumbuhan nggak akan ada kehidupan.

Sesulit apapun hidupmu, berbahagialah. Lakukan apapun yang kamu sukai dan fokus. Tinggalkan hal negatif dan eksplor yang positif. Ingat, jangan lupa bahagia.
(wk/)