Sakit di Lengan dan Bahu, Tulang Wanita Ini Ternyata Menghilang
SerbaSerbi

Masih sangat langka, hanya ada 64 kasus serupa yang pernah dilaporkan oleh jurnal BMJ Case Reports.

WowKeren - Sebelumnya baik-baik saja dan dalam keadaan sehat, seorang wanita berusia 44 tahun ini tiba-tiba mengeluh sakit di lengan dan bahu. Tak segera sembuh, ia pun memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter. Akan tetapi, hasil mencengangkan malah ia dapatkan.

Gejala yang ditemukan pada wanita ini sempat membingungkan dokter. Pertama kali datang ke rumah sakit, wanita ini mengeluhkan rasa sakit yang terus-terusan ia rasakan di lengan dan bahunya. Siapa yang menyangka, dalam rangkaian pemeriksaan X-ray, ternyata tulang-tulangnya tampak menghilang.

Awalnya, dokter mengira wanita ini terserang penyakit kanker. Akan tetapi, hasil biopsinya tidak menunjukkan adanya kanker. Sebaliknya, hasil rontgen tersebut malah semakin membingungkan.

Setahun setelah memeriksakan diri, rasa sakit yang diderita wanita tersebut tak kunjung hilang. Ia malah semakin merasakan sakit dan bengkak di lengannya. Tulang-tulang miliknya bahkan langsung retak hanya karena cedera ringan. Akan tetapi, saat itu, ia masih belum juga menerima diagnosis yang tepat.

Lalu, 18 bulan setelah ia pertama kali ke dokter, akhirnya hasil rontgen menunjukkan bahwa tulangnya mulai menghilang. Dalam hasil rontgen, kedua tulang humerus dan tulang ulnarnya (salah satu dari dua tulang di lengan bawah) tampak tidak terlihat di hasil X-ray. Biopsi tambahan pun menunjukkan adanya pertumbuhan pembuluh darah menggantikan jaringan tulang milik wanita tersebut.

Menurut laporan baru dari dokter-dokter di Royal Infimary of Edinburg di Skotlandia, wanita ini didiagnosis dengan Gorham-Stout. Penyakit ini juga dikenal dengan nama penyakit tulang yang hilang.

Kondisi langka ini terjadi saat seseorang mengalami kehilangan tulang yang progresif. Menurut laporan yang diterbitkan oleh jurnal BMJ Case Reports pada 22 Maret lalu, hanya ada 64 kasus serupa.

Sayangnya, Organisasi Nasional untuk Kelainan yang Langka (NORD) hingga kini belum mengetahui apa penyebabnya. Mereka juga mengatakan tidak ada pemicu genetik atau lingkungan dari penyakit tersebut.

You can share this post!

Related Posts