Mengusung era kolonial dengan menampilkan aktris-aktris baru, pihak produksi optimis filmnya akan diminati banyak penonton.
- Wahyu
- Selasa, 24 Juli 2018 - 11:55 WIB
WowKeren - Kualitas dan kuantittas perfilman Indonesia kian hari semakin menunjukkan peningkatan. Tema yang disuguhkan juga tak melulu berputar pada hal yang itu-itu saja. Oleh sebab itu, beragam rumah produksi kini mulai bermunculan.
Salah satunya yakni Xela Pictures, ia hadir dengan memperkenalkan film terbarunya, ''Sara & Fei: Stadhuis Schandaaal''. Film tersebut akan tayang serentak pada Kamis (26/7) di seluruh bioskop Tanah Air.
Pihak Xela Pictures berharap karya perdananya dapat membuat perfilman Indonesia semakin diperhitungan. Meraka juga ingin melalui ''Sara & Fei: Stadhuis Schandaaal'' ini bisa mengangkat budaya Indonesia ke Mancanegara.
"Kami melihat potensi penonton film di Indonesia masih sangat besar. Dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah, kami pun ingin mengangkat budaya Indonesia ke Mancanegara," ungkap pihak XELA saat ditemui di XXI Metropole, Jakarta Pusat, baru-baru ini. "Termasuk Tiongkok yang menjadi pasar kedua film perdana kami."
Xela Pictures tak main-main dalam memproduksi film perdananya, ia langsung menggandeng sutradara senior yakni Adysurya Abdy. Bersama beliau pihak Xela Pictures mengusung film berlatar belakang era kolonial yang terjadi ratusan tahun lalu namun tetap dikemas dengan gaya moder.
"Saya memang tidak ingin membuat film sejarah," ujar pihak Xela. "Saya ingin membuat film yang menggambarkan situasi yang konon pernah terjadi di zaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh skandal."
Hasil karya perdana antara Xela Pictures dan sutradara Adisurya Abdy melahirkan film bergenre drama thiller dan misteri. Adisurya Abdy mengatakan bahwa film tersebut lebih banyak menarik minat penonton usia muda.
"Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan format kekinian, tetapi unsur-unsur historisnya tetap terpenuhi," kata sutradara. "Sehingga memberikan generasi baru untuk banyak mengetahui sejarah yang belum terungkap."
Konsep artistik juga disesuaikan dengan zaman itu. Demi terlihat sempurna, Adisurya Abdy pun membangun lokasi syuting berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1.500 meter persegi di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
"Kami sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kami lakukan," tutur sang sutradara. "Untuk itu kami putuskan lebih baik membangun set sendiri agar kerja tim menjadi lebih bebas."
Menariknya, pihak sutradara berani ambil resiko dengan menampilkan aktris yang kebetulan baru terjun di dunia film. Mereka adalah Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hanakin, Volland Volt, dan Mikey Lie.
Sementara itu, demi meraih minat penonton di pasar Tiongkok film ini mengambil lokasi syuting di dua negara. Di antaranya Jakarta, Pangkalan Bun Kalimantan (Indonesia) serta Shanghai dan Ningbo (Tiongkok).
(wk/wahy)