Pihak Big Machine Records Buka Suara Soal Penjualan Aset Musik Taylor Swift pada Scooter Braun
Getty Images
Selebriti

Scott Brochetta, pimpinan Big Machine Records, mengaku telah menghubungi Taylor lewat pesan singkat pada Sabtu (29/6) malam, sebelum kabar pindah tangan diumumkan pada Minggu (30/6) pagi.

WowKeren - Kisruh terkait akuisisi perusahaan Ithaca Holdings LLC milik Scooter Braun terhadap mantan label rekaman Taylor Swift, Big Machine Records, rupanya masih berbuntut panjang. Diketahui, sebelumnya Taylor sendiri sempat menuliskan ungkapan kekecewaannya atas akuisisi ini melalui media sosial miliknya.

Bahkan dalam unggahannya, Taylor mengklaim bahwa Scooter Braun adalah sosok yang sudah melakukan tindak manipulasi dan mengintimidasinya selama ini. "Beberapa fakta menyenangkan tentang berita hari ini: Aku belajar tentang pembelian Scooter Braun atas masterku (karyaku) sebagaimana diumumkan kepada dunia. Yang bisa aku pikirkan hanyalah intimidasi, manipulatif yang terus-menerus aku terima di tangannya selama bertahun-tahun," tulis Taylor dalam unggahannya.

Konflik ini rupanya makin melebar saat Justin Bieber selaku artis asuhan Scooter Braun turut buka suara untuk membela sang manajer. Tak hanya itu, sejumlah selebriti lainnya bahkan tak segan untuk ikut berkomentar dalam menanggapi masalah ini.

Kini, akhirnya pihak mantan label rekaman Taylor, Big Machine Records, pun angkat suara secara langsung. Scott Brochetta selaku pemimpin label tersebut bahkan tak segan memaparkan kronologi akuisisi Ithaca Holdings terhadap Big Machine Records.

Dalam keterangan yang diunggah di laman resmi Big Machine Records ini, Brochetta mengungkapkan bahwa ayah Taylor, Scott Swift, merupakan salah satu pemegang saham dari label tersebut. Borchetta pun mengaku bahwa sebelum menjual label, ia telah mengingatkan dan mengundang semua pemegang saham resmi untuk bertemu pada 25 Juni lalu.


"Pada panggilan itu, para pemegang saham diberitahukan tentang kesepakatan yang tertunda dengan Ithaca Holdings dan memiliki waktu tiga hari untuk membahas semua rincian transaksi yang diusulkan," tulisnya.

"Kami kemudian melakukan panggilan terakhir pada hari Jumat, 28 Juni, di mana transaksi selesai dengan suara mayoritas dan tiga dari lima pemegang saham memberikan suara 'ya' dengan 92 persen suara pemegang saham," paparnya menambahkan.

Brochetta juga mengaku telah menghubungi Taylor secara pribadi via pesan singkat pada Sabtu (29/6) malam, sebelum kabar pindah tangan diumumkan pada Minggu (30/6) pagi. "Aku kira mungkin saja, entah bagaimana pengacara 13 Management Jay Schaudies (yang mewakili Scott Swift pada panggilan pemegang saham) atau eksekutif 13 Management dan pemegang saham Big Machine LLC, Frank Bell (yang ada di panggilan pemegang saham) tidak mengatakan apa pun pada Taylor selama lima hari sebelumnya," lanjutnya.

"Aku kira mungkin saja dia (Taylor) tidak membaca pesanku," tambahnya. "Tapi, aku benar-benar ragu bahwa dia baru tahu tentang kabar (penjualan label) itu bersama semua orang lain."

Di sisi lain, konflik ini bermula saat perusahaan Ithaca Holdings LLC mengumumkan bahwa mereka telah mengakuisisi Big Machine Records dengan nominal sebesar USD 300 juta. Kesepakatan ini tentunya mau tak mau juga mencakup hak atas seluruh katalog musik milik Taylor.

Katalog musik alias karya milik Taylor ini tentunya meliputi karyanya sejak awal kariernya hingga tahun 2017 lalu, termasuk enam albumnya selama masih bernaung di bawah nama Big Machine Records. Diketahui, musisi cantik tersebut memang baru saja pindah label rekaman ke Republic Records dan Universal Music Group (UMG) pada 2018 lalu.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait